Halalbihalal Yayasan Dewi Sartika: Reset Hati, Kuatkan Ukhuwah

By adminbj

Suasana hangat dan penuh keakraban terasa sejak pagi hari di SD Islam Bintang Juara, Sabtu, 4 April 2026. Satu per satu keluarga besar Yayasan Dewi Sartika Semarang hadir, membawa senyum, saling menyapa, dan menyimpan harapan yang sama: kembali menyambung hati yang mungkin sempat berjarak.

Momentum ini dikemas dalam kegiatan Halalbihalal Keluarga Besar Yayasan Dewi Sartika Semarang dengan tema “Raih Keberkahan dengan Menguatkan Ukhuwah dan Saling Memaafkan.”

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh karyawan dan tenaga pendidik dari berbagai unit, mulai dari PAUD dan SD Islam Bintang Juara, Smart & Fun Home (SFH), Biro Psikologi Qualifa, Cipta Media Digital, hingga Unit Dapur. Sebuah pertemuan yang tidak hanya mempertemukan individu, tetapi juga menyatukan visi dalam satu keluarga besar.

Dibuka dengan Kehangatan dan Nuansa Islami

    Acara dipandu dengan hangat oleh Pak Amir, yang mengajak seluruh peserta larut dalam suasana kebersamaan. Pembukaan semakin terasa istimewa dengan penampilan Rebana An Najma Senior, yang menghadirkan lantunan shalawat penuh ketenangan.

    Shalawat yang mengalun seakan menjadi pengingat bahwa setiap langkah dalam dunia pendidikan ini sejatinya adalah bagian dari ibadah.

    Pesan Bermakna dari Ketua Yayasan

      Sambutan disampaikan oleh Ketua Yayasan Dewi Sartika, Bunda Vivi Psikolog. Dalam pesannya, beliau mengajak seluruh hadirin untuk benar-benar memaknai halalbihalal, bukan sekadar tradisi, tetapi sebagai proses membersihkan hati.

      Beliau menekankan tiga hal penting:

      • Saling memberi maaf dan memaafkan
      • Saling mendoakan dalam kebaikan
      • Berlapang dada dalam setiap interaksi

      Satu pesan yang begitu membumi adalah ketika beliau mengatakan;

      “Jika terasa sulit mengingatkan orang lain, maka doakan saja. Minta Allah yang melembutkan hatinya.”

      Sebuah pengingat bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dengan kata-kata—ada ruang doa yang jauh lebih kuat dan menenangkan.

      Muhasabah dan Tazkiyatun Nafs sebagai Kunci

        Dalam kesempatan tersebut, Bunda Vivi juga mengajak seluruh tenaga pendidik untuk memperbanyak muhasabah (introspeksi diri) dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).

        Karena sejatinya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh metode, tetapi juga oleh kebersihan hati pendidiknya.

        Beliau juga membagikan tiga cara sederhana namun berdampak besar untuk membangun koneksi dengan murid:

        1. Memberikan Pijakan yang Tepat

        Seluruh tenaga kependidikan perlu memberikan pijakan yang seragam dan kompak. Konsistensi ini penting agar anak merasa aman dan tidak bingung dengan aturan yang berbeda.

        2. Menampilkan Wajah yang Cheerful dan Komunikatif

          Ekspresi guru adalah bahasa pertama yang ditangkap anak. Wajah yang ramah dan komunikasi yang hangat akan membuka pintu kedekatan.

          3. Tidak Pernah Meninggalkan Shalat

          Ini adalah pondasi utama. Ketika hubungan dengan Allah terjaga, maka interaksi dengan manusia pun akan lebih tenang dan penuh hikmah.

          galeri halalbihalal yayasan dewi sartika

          Mauidhoh Hasanah: Refleksi di Tiga Dunia

            Memasuki acara inti, mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH Muhammad Dzikron ZA. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak seluruh hadirin untuk lebih waspada dalam menjalani kehidupan modern.

            Beliau menyampaikan bahwa manusia hari ini hidup dalam tiga dunia sekaligus:

            • Dunia nyata
            • Dunia mimpi
            • Dunia maya

            Keseimbangan di antara ketiganya menjadi tantangan tersendiri. Tanpa kesadaran, seseorang bisa terjebak dalam dunia yang menjauhkan dari nilai-nilai kebaikan.

            Sejarah Halalbihalal: Dari Kebingungan Jadi Kebersamaan

              Menariknya, KH Dzikron juga mengulas sejarah halalbihalal yang ternyata merupakan tradisi khas Indonesia.

              Dikisahkan bahwa pada masa Presiden Soekarno, terjadi kebingungan karena para pejabat sulit untuk kompak. Lalu beliau meminta nasihat para kyai. Solusi yang diberikan sederhana:
              undang makan bersama setelah Lebaran.

              Namun sebelum makan, diisi dengan:

              • Tilawatil Qur’an
              • Shalawat
              • Mauidhoh hasanah

              Hasilnya?
              Hubungan yang semula kaku menjadi cair. Komunikasi yang tersendat mulai terbuka.

              Sejak saat itu, tradisi halalbihalal berkembang hingga sekarang.

              Halalbihalal: Reset Hati seperti Memori Ponsel

              Dalam penyampaiannya, KH Dzikron memberikan analogi yang sangat relevan dengan kehidupan saat ini.

              Halalbihalal diibaratkan seperti mengosongkan memori ponsel yang penuh.
              Jika tidak dibersihkan, performanya akan melambat, bahkan bisa error.

              Begitu pula hati manusia.

              Jika penuh dengan prasangka, luka, dan kesalahpahaman, maka hubungan akan terasa berat.
              Namun ketika hati “di-reset”, semuanya kembali ringan, jernih, dan siap untuk melangkah lebih baik.

              Guru: Teladan yang Lebih dari Sekadar Mengajar

              Pesan yang tak kalah kuat adalah tentang peran guru dan tenaga kependidikan.

              KH Dzikron mengingatkan bahwa:

              Akhlak guru tidak boleh kalah dari pegawai hotel.

              Artinya, pelayanan, keramahan, dan sikap profesional harus menjadi bagian dari keseharian. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga teladan hidup bagi anak-anak.

              Selain itu, guru juga dituntut untuk:

              • Cermat membaca informasi
              • Mendidik anak seperti anak sendiri
              • Menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya

              Karena pendidikan sejati bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang keteladanan.

              Pesan Penutup yang Sederhana Namun Bermakna

                Di akhir tausiyah, KH Dzikron memberikan pesan yang mungkin terdengar sederhana, namun sangat dalam maknanya:

                “Tetaplah membaca dan menulis tangan.”

                Di tengah derasnya arus digital, aktivitas ini menjadi cara untuk menjaga fokus, melatih kesabaran, dan menguatkan daya pikir.

                Penutup: Ukhuwah yang Diperbarui, Langkah yang Dikuatkan

                Kegiatan ditutup dengan bermusofahah (saling berjabat tangan) dan memaafkan. Kemudian dilanjutkan dengan salat Zuhur berjamaah.

                Halalbihalal bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah ruang untuk memperbaiki, menguatkan, dan memulai kembali.

                Di tengah dinamika dunia pendidikan yang penuh tantangan, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa:

                • Kita tidak berjalan sendiri
                • Kita saling membutuhkan
                • Dan kita dipersatukan oleh tujuan yang sama

                Semoga melalui kegiatan ini, seluruh keluarga besar Yayasan Dewi Sartika semakin kuat dalam ukhuwah, semakin lapang dalam memaafkan, dan semakin siap membersamai kakak shalih-shalihah dengan hati yang bersih dan penuh keikhlasan.

                Karena pendidikan terbaik selalu dimulai dari hati yang bersih… dan hubungan yang saling menguatkan.*** (CM-MRT)

                Leave a Comment