Setiap tanggal 21 April, kita memperingati Hari Kartini. Biasanya, di hari ini murid dan tenaga kependidikan mengenakan kebaya, sekolah mengadakan berbagai lomba, dan nama Kartini kembali disebut sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk benar-benar memahami: apa makna perjuangan Kartini? Dan yang lebih penting, bagaimana perjuangan itu bisa kita kaitkan dengan nilai-nilai Islam?
Itulah kenapa di Sekolah Islam Bintang Juara, tidak ada perayaan khusus di Hari Kartini. Kami lebih memilih untuk menjadikan hari ini sebagai momen bermuhasabah.
Daftar Isi
- 1 Mengenal Sosok Kartini Lebih Dekat
- 2 Kartini dan Semangat Menuntut Ilmu dalam Islam
- 3 Emansipasi dalam Islam: Bukan Sekadar Bebas, Tapi Bermakna
- 4 Perempuan dalam Islam: Teladan Sejak Dulu
- 5 Menghidupkan Semangat Kartini di Zaman Sekarang
- 6 Peran Orang Tua dan Sekolah
- 7 Kartini Masa Kini: Bukan Siapa-Siapa, Tapi Semua Bisa
- 8 Penutup
Mengenal Sosok Kartini Lebih Dekat
Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara. Ia dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi, khususnya dalam hal pendidikan.
Di masa itu, perempuan memiliki keterbatasan besar:
- Tidak semua bisa mengenyam pendidikan tinggi
- Ruang gerak sangat terbatas
- Peran perempuan sering dipersempit hanya pada ranah domestik
Namun Kartini memiliki kegelisahan. Ia melihat ketimpangan, dan ia ingin perubahan.
Melalui surat-suratnya, Kartini menyuarakan harapan tentang perempuan yang:
- Berilmu
- Mandiri
- Mampu berpikir
Namun perjuangan Kartini bukan sekadar tentang “kebebasan dan kesetaraan”, melainkan tentang hak untuk berkembang sebagai manusia seutuhnya.
Kartini dan Semangat Menuntut Ilmu dalam Islam
Jika kita lihat lebih dalam, nilai yang diperjuangkan Kartini sangat selaras dengan ajaran Islam.
Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim—baik laki-laki maupun perempuan.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”
Tidak ada pembatasan gender dalam hal ini.
Kartini memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan, dan ini sejalan dengan nilai Islam yang:
- Mendorong umatnya untuk berilmu
- Mengangkat derajat orang-orang yang berpengetahuan
- Menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kebaikan
Artinya, semangat Kartini bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan Islam, justru menguatkan nilai yang sudah diajarkan dalam Islam sejak awal.
Kisah Kartini dan Kiai Sholeh Darat
Ada sebuah kisah yang perlu diteladani dari semangat belajar RA Kartini. Suatu hari, ketika Kartini berguru pada Kiai Sholeh Darat. Beliau meminta Kiai Sholeh Darat untuk menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa agar maknanya lebih dapat dipahami.
Permintaan tersebut direalisasikan oleh Kia Sholeh Darat, meskipun tidak sampai 30 juz. Kitab tafsire tersebut diberi nama Faidhur-Rohman (Fayḍ al-Raḥman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malik al-Dayyan). Kiai Sholeh Darat menuliskan tafsir tersebut menggunakan Arab pegon.
Kitab tersebut dihadiahkan oleh Kiai Sholeh Darat kepada RA Kartini ketika ia menikah dengan RM. Joyodiningrat (Bupati Rembang). Tafsir yang berhasil diselesaikan dan dihadiahkan tersebut baru mencakup juz 1 sampai juz 13 (Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim), sebelum akhirnya Kiai Sholeh Darat wafat.
Setelah menerima terjemahan tersebut, Kartini merasa tercerahkan dan mengatakan bahwa surat Al-Fatihah yang sebelumnya terasa “gelap” baginya, menjadi “terang benderang” karena dipahami dalam bahasa Jawa.
Konon, jargon “Habis Gelap Terbitlah Terang” berasal dari pemahaman Kartini yang makin terbuka karena memahami ayat-ayat Allah SWT.
Emansipasi dalam Islam: Bukan Sekadar Bebas, Tapi Bermakna
Sering kali, istilah emansipasi disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Padahal dalam perspektif Islam, kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab dan nilai.
Islam memuliakan perempuan dengan:
- Hak untuk belajar
- Hak untuk berpendapat
- Hak untuk dihormati
Namun semua itu tetap berada dalam koridor akhlak dan adab.
Kartini pun tidak pernah menyerukan kebebasan yang lepas dari nilai. Ia justru menginginkan perempuan yang:
- Cerdas
- Berdaya
- Tetap memiliki nilai moral
Ini sejalan dengan konsep perempuan dalam Islam:
kuat, berilmu, dan berakhlak.
Perempuan dalam Islam: Teladan Sejak Dulu
Jika kita menengok sejarah Islam, banyak perempuan hebat yang bisa menjadi teladan:
- Khadijah radhiyallahu ‘anha: pebisnis sukses dan pendukung dakwah
- Aisyah radhiyallahu ‘anha: cerdas, ahli ilmu, dan menjadi rujukan banyak sahabat
- Fatimah az-Zahra: sosok sederhana, penuh keteladanan
Mereka menunjukkan bahwa perempuan bisa:
- Berkontribusi
- Berilmu
- Tetap menjaga kehormatan
Kartini hadir dalam konteks Indonesia, membawa semangat yang sama:
perempuan tidak boleh berhenti belajar dan bertumbuh.
Menghidupkan Semangat Kartini di Zaman Sekarang
Hari ini, akses pendidikan terbuka luas. Anak perempuan bisa belajar di sekolah, mengikuti berbagai kegiatan, bahkan mengembangkan potensi di berbagai bidang.
Namun tantangannya berbeda.
Jika dulu tantangannya adalah keterbatasan akses, sekarang tantangannya adalah:
- Distraksi digital
- Krisis adab
- Kurangnya arah dalam belajar
Maka semangat Kartini perlu dimaknai ulang.
Bukan sekadar:
- Memakai kebaya
- Mengikuti lomba
- Menghafal sejarah
Tetapi bagaimana anak-anak kita, khususnya perempuan, bisa:
- Mencintai ilmu
- Memiliki akhlak yang baik
- Percaya diri tanpa kehilangan adab
Peran Orang Tua dan Sekolah
Menanamkan nilai Kartini yang Islami tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu sinergi antara rumah dan sekolah.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
1. Menanamkan Cinta Ilmu Sejak Dini
Ajak anak membaca, berdiskusi, dan bertanya. Jangan batasi rasa ingin tahunya.
2. Memberikan Teladan Akhlak
Anak belajar bukan dari kata-kata, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari.
3. Menguatkan Identitas Muslimah
Ajarkan bahwa menjadi perempuan hebat tidak harus meninggalkan nilai Islam.
4. Memberi Ruang untuk Berkembang
Dukung minat dan bakat anak, selama tetap dalam koridor kebaikan.
Kartini Masa Kini: Bukan Siapa-Siapa, Tapi Semua Bisa
Kartini hari ini bukan hanya satu orang. Kartini ada di setiap perempuan yang:
- Mau belajar
- Mau memperbaiki diri
- Mau memberi manfaat
Kartini bisa kita temui pada;
- ibu yang mendidik anak dengan sabar.
- guru yang mengajar dengan sepenuh hati.
- anak perempuan yang berani bermimpi dan berusaha.
Penutup
Hari Kartini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang melanjutkan perjuangan dengan cara yang lebih bermakna.
Dalam perspektif Islam, perempuan bukan hanya berhak untuk maju, tetapi juga memiliki peran besar dalam membangun peradaban.
Maka, mari kita tumbuhkan generasi perempuan yang:
- Cerdas dalam berpikir
- Lembut dalam bersikap
- Kuat dalam iman
Karena sejatinya, perempuan hebat bukan hanya yang terlihat bersinar di luar, tetapi yang mampu menjaga cahaya dalam dirinya.
Selamat Hari Kartini. Mari menjadi perempuan yang berilmu, berakhlak, dan membawa kebermanfaatan.*** (CM-MRT)
Referensi Bacaan: