Guru Sejahtera, Murid Bahagia: Belajar dari Webinar Pendidikan Inklusi

By adminbj

Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi pelajaran. Di balik setiap proses pembelajaran, ada tanggung jawab besar untuk memahami karakter, kebutuhan, kemampuan, dan perkembangan setiap murid. Terlebih dalam penerapan pendidikan inklusi, guru dihadapkan pada keberagaman kondisi peserta didik yang membutuhkan perhatian dan pendekatan berbeda.

Karena itu, kesejahteraan psikologis guru atau psychological well-being menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan.

Berangkat dari kepedulian tersebut, tim peneliti UICI bekerjasama dengan Sekolah Islam Bintang Juara menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian dan Webinar “Tumbuh di Tengah Tantangan: Psychological Well-Being Guru SD dalam Penerapan Pendidikan Inklusi” pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber kompeten, yaitu Ibu Dyah Indah Noviani, S.Psi., M.Psi., Psikolog atau Bunda Vivi Psikolog, selaku Ketua Yayasan Dewi Sartika, dosen Program Studi Psikologi Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), sekaligus Ketua Tim Peneliti. Narasumber kedua adalah Ibu Nurina, S.Psi., M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis.

Melalui kegiatan ini, para peserta diajak memahami hasil penelitian mengenai kesejahteraan psikologis guru sekolah dasar dalam penerapan pendidikan inklusi, sekaligus memperoleh wawasan praktis untuk menghadapi tantangan di lingkungan pendidikan.

Mengapa Psychological Well-Being Guru Penting dalam Pendidikan Inklusi?

Pendidikan inklusi memberikan kesempatan kepada peserta didik dengan beragam karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan untuk memperoleh pengalaman belajar di lingkungan pendidikan yang mengakomodasi keberagaman tersebut.

Dalam pelaksanaannya, guru memiliki peran yang sangat penting. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan pembelajaran, tetapi juga perlu menyesuaikan metode, media, strategi, dan penilaian agar dapat mengakomodasi kebutuhan murid.

Selain itu, guru perlu membangun komunikasi dengan orang tua, berkolaborasi dengan rekan sejawat, serta melakukan berbagai administrasi dan pencatatan perkembangan peserta didik.

Beragam tanggung jawab tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika sumber daya pendukung belum memadai. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kelelahan fisik maupun psikologis.

Dalam pemaparannya, Bunda Vivi menjelaskan bahwa psychological well-being bukan sekadar tidak adanya gangguan mental. Lebih dari itu, kesejahteraan psikologis berkaitan dengan kemampuan individu untuk berkembang, mengoptimalkan potensi diri, dan menemukan kebermaknaan dalam menjalankan peran kehidupannya.

Guru yang memiliki kesejahteraan psikologis baik diharapkan dapat menjalankan peran pendidik dengan lebih optimal, termasuk dalam mendampingi murid dengan kebutuhan yang beragam.

Hasil Penelitian: 71,4% Guru Berada pada Kategori Psychological Well-Being Sedang

Salah satu bagian penting dalam webinar ini adalah diseminasi hasil penelitian yang dilakukan di 16 kecamatan di Kota Semarang dengan melibatkan 364 guru sekolah dasar sebagai responden.

Penelitian tersebut menggambarkan kondisi kesejahteraan psikologis guru sekaligus mengidentifikasi tantangan yang mereka hadapi dalam penerapan pendidikan inklusi.

Beberapa temuan yang dipaparkan Bunda Vivi antara lain:

  • 71,4% guru berada pada kategori psychological well-being sedang. Artinya, sebagian besar responden telah memiliki kesejahteraan psikologis yang cukup, tetapi masih perlu dipertahankan dan ditingkatkan.
  • 95,6% sekolah belum memiliki Guru Pembimbing Khusus (GPK). Kondisi ini menunjukkan masih adanya kebutuhan tenaga pendamping yang kompeten dalam mendukung pendidikan inklusi.
  • 94% guru mengajar tanpa guru pendamping kelas. Guru perlu menangani keberagaman kebutuhan murid dalam satu kelas dengan dukungan yang terbatas.
  • 50,5% guru belum pernah mengikuti pelatihan pendidikan inklusi. Hal ini menunjukkan pentingnya pelatihan praktis dan berkelanjutan bagi pendidik.
  • Sekitar 90% guru tetap melakukan akomodasi pembelajaran sesuai kebutuhan murid. Temuan ini memperlihatkan semangat dan komitmen guru untuk terus menyesuaikan pembelajaran meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.

Dari enam dimensi psychological well-being yang digunakan dalam penelitian, aspek personal growth atau pertumbuhan pribadi menjadi dimensi yang paling menonjol.

Hal ini menunjukkan bahwa para guru memiliki semangat untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, serta mencari strategi pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Namun, dimensi environmental mastery atau penguasaan lingkungan masih menjadi tantangan. Kesenjangan antara tuntutan pekerjaan dan sumber daya pendukung membuat guru belum sepenuhnya dapat mengelola berbagai kondisi di lingkungan kerjanya.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa semangat guru untuk bertumbuh perlu didukung oleh lingkungan kerja, fasilitas, tenaga ahli, serta kebijakan pendidikan yang memadai.

Enam Dimensi Psychological Well-Being yang Perlu Dikembangkan Guru

Dalam penelitian yang dipaparkan Bunda Vivi, konsep psychological well-being mengacu pada enam dimensi yang dikembangkan oleh Carol Ryff.

Keenam dimensi tersebut meliputi:

  • Self-Acceptance (Penerimaan Diri): Kemampuan mengenali dan menerima kelebihan maupun kekurangan diri secara positif dan realistis.
  • Positive Relations (Hubungan Positif): Kemampuan membangun hubungan yang hangat, saling percaya, empatik, dan peduli terhadap orang lain.
  • Autonomy (Otonomi): Kemampuan mengarahkan diri dan mengambil keputusan berdasarkan prinsip serta nilai yang diyakini.
  • Environmental Mastery (Penguasaan Lingkungan): Kemampuan mengelola dan memanfaatkan sumber daya serta peluang yang tersedia di lingkungan.
  • Purpose in Life (Tujuan Hidup): Memiliki tujuan, arah, dan kebermaknaan dalam menjalankan kehidupan maupun pekerjaan.
  • Personal Growth (Pertumbuhan Pribadi): Memiliki keterbukaan terhadap pengalaman baru serta semangat untuk terus belajar dan mengembangkan potensi.

Keenam dimensi ini saling melengkapi. Kesejahteraan psikologis guru tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan mengelola diri, tetapi juga berkaitan dengan kualitas hubungan dan dukungan lingkungan kerja.

Strategi Menjaga Kesejahteraan Psikologis Guru Bersama Nurina Psikolog

Pada sesi berikutnya, Ibu Nurina, S.Psi., M.Psi., Psikolog, membahas tantangan dan strategi peningkatan psychological well-being guru dari sisi personal dan profesional.

Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah bahwa guru yang sejahtera dapat menghadirkan suasana belajar yang lebih positif bagi murid.

Guru juga perlu memahami bahwa setiap individu memiliki kapasitas, pengalaman, dan kondisi yang berbeda. Karena itu, penting untuk mengenali diri sendiri tanpa terus-menerus membandingkan kemampuan diri dengan orang lain.

Beberapa strategi praktis yang dibahas dalam sesi ini meliputi:

1. Melakukan Emotional Check-In

Sebelum memulai aktivitas mengajar, guru dapat meluangkan waktu untuk mengenali emosi yang sedang dirasakan. Apakah sedang bahagia, sedih, lelah, atau marah? Dengan mengenali kondisi diri, guru dapat lebih siap mengelola respons emosional saat berinteraksi dengan murid.

2. Mengenali Batas Kemampuan dan Ambang Stres

Guru perlu memahami tanda-tanda ketika tubuh dan pikiran mulai mengalami kelelahan. Ketika beban terasa terlalu berat, tidak ada salahnya mengambil jeda, meminta bantuan, atau mendelegasikan tugas sesuai kebutuhan.

3. Menjaga Batas antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Menjadi pendidik merupakan profesi yang memiliki tanggung jawab besar. Namun, guru juga memiliki kehidupan pribadi dan keluarga. Karena itu, penting untuk menyepakati batas komunikasi pekerjaan, menyediakan waktu untuk keluarga, beribadah, menjalankan hobi, dan beristirahat.

4. Mengembangkan Self-Compassion

Alih-alih terus menyalahkan diri ketika menghadapi kesulitan, guru perlu belajar memperlakukan diri dengan lebih penuh kasih. Kesulitan dalam mendampingi murid bukan berarti kegagalan. Ada kesempatan untuk belajar, memperbaiki pendekatan, dan mencoba kembali.

5. Membangun Relasi dan Dukungan Profesional

Guru tidak harus menyelesaikan seluruh tantangan seorang diri. Berdiskusi dengan rekan yang kompeten, membangun komunikasi yang sehat, dan berkolaborasi dengan tenaga profesional dapat membantu menemukan pendekatan yang lebih tepat.

6. Menguatkan Spiritualitas

Dalam sesi tersebut, Ibu Nurina juga mengingatkan pentingnya melibatkan nilai spiritual dalam kehidupan profesional. Salah satunya melalui QS. Ar-Ra’d ayat 28 yang mengingatkan bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Pendidikan Inklusi Membutuhkan Dukungan Bersama

Salah satu pesan penting dari kegiatan ini adalah bahwa kesejahteraan psikologis guru bukan hanya tanggung jawab individu. Dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar guru tidak merasa sendirian dalam menjalankan perannya.

Bunda Vivi memaparkan bahwa penguatan psychological well-being perlu dilakukan secara berjenjang, yaitu:

  • Tingkat individu: Mengembangkan kemampuan mengenali diri, mengelola emosi, meningkatkan kompetensi, dan melakukan refleksi.
  • Tingkat sekolah: Menghadirkan dukungan pimpinan, komunikasi yang terbuka, kolaborasi antarguru, komunitas belajar, sarana pembelajaran, serta akses terhadap tenaga profesional.
  • Tingkat kebijakan: Mendorong ketersediaan Guru Pembimbing Khusus, pelatihan berkelanjutan, regulasi yang mengakomodasi kebutuhan murid, dan dukungan anggaran pendidikan.

Ibu Nurina juga menekankan bahwa pendidikan inklusi memberikan manfaat bukan hanya bagi murid yang membutuhkan dukungan khusus, tetapi juga bagi seluruh peserta didik. Melalui interaksi dalam lingkungan yang beragam, anak dapat belajar memahami perbedaan, membangun empati, dan mengembangkan keterampilan sosial sejak dini.

Tentu, pelaksanaan pendidikan inklusi membutuhkan pemahaman yang tepat terhadap kebutuhan setiap anak serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan tenaga ahli.

Guru Terus Bertumbuh, Anak Mendapatkan Lingkungan Belajar yang Lebih Baik

Kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian dan Webinar ini menjadi ruang belajar, refleksi, serta apresiasi terhadap peran guru dalam pendidikan inklusi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki semangat untuk terus berkembang. Namun, semangat tersebut perlu diiringi dengan dukungan lingkungan kerja yang sehat, akses terhadap pelatihan, kolaborasi, dan sumber daya yang memadai.

Bagi Sekolah Islam Bintang Juara, pembahasan mengenai kesejahteraan psikologis guru juga menjadi pengingat bahwa pendidikan yang baik perlu memperhatikan semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Guru yang mendapatkan ruang untuk bertumbuh, didukung, dan dihargai akan memiliki kesempatan lebih baik untuk menghadirkan proses pembelajaran yang positif dan bermakna bagi anak.

Sebab, pendidikan yang ramah bagi anak juga perlu dibangun melalui lingkungan yang menyejahterakan pendidiknya.

Guru bertumbuh, murid bertumbuh. Guru sejahtera, murid bahagia.

Leave a Comment