Suasana sesi parenting kelas 2 beberapa waktu lalu terasa hangat dan penuh makna. Bukan hanya karena ini merupakan sesi parenting offline pertama wali kelas 2 di Semester 1, tetapi juga karena pesan yang disampaikan menyentuh ruang terdalam peran orang tua dalam pendidikan anak. Di sela-sela acara, Bu Muhay selaku MC menyampaikan satu pengingat sederhana namun penting: orang tua perlu segera melakukan playdate kelas.
Sekilas, playdate mungkin terdengar seperti agenda bermain biasa. Namun jika dimaknai lebih dalam, playdate—terutama dalam bingkai paguyuban kelas—adalah ruang strategis untuk menumbuhkan keharmonisan, baik di level anak maupun orang tua.
Tidak jauh berbeda, di setiap sesi parenting PAUD Islam Bintang Juara, para guru juga selalu rajin mengingatkan Ayah Bunda agar segera menggelar playdate paguyuban.
Daftar Isi
Playdate Paguyuban Kelas Bukan Sekadar Main, tapi Ruang Bertumbuh
Playdate kelas dapat dilaksanakan secara fleksibel. Bisa per paguyuban masing-masing kelas, atau digabungkan menjadi satu kegiatan besar, misal dilaksanakan serentak pada jenjang kelas 2 atau TK A. Harapannya, playdate tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, melainkan menjadi lanjutan alami dari sesi parenting yang sudah dimulai di sekolah.
Dalam playdate, anak-anak berinteraksi secara lebih santai di luar suasana kelas. Mereka belajar berkomunikasi, bernegosiasi, berbagi, bahkan menyelesaikan konflik kecil secara alami. Di saat yang sama, orang tua hadir sebagai pengamat sekaligus pembelajar—melihat langsung dinamika sosial anaknya.
Mengapa Playdate Paguyuban Kelas Penting?
Manfaat playdate paguyuban kelas sangat besar. Salah satunya adalah membantu Ayah dan Bunda mengenal teman-teman putra-putrinya. Dengan mengenal lingkar pertemanan anak, orang tua akan lebih memahami cerita, emosi, dan respons anak dalam keseharian.
Lebih dari itu, playdate juga menjadi ruang bagi orang tua untuk saling mengenal satu sama lain. Inilah poin krusialnya. Dalam proses pendidikan dan pengasuhan, sesungguhnya orang tua lain adalah partner nyata bagi Ayah dan Bunda. Anak-anak tumbuh bersama, maka orang tua pun perlu berjalan beriringan.
Ketika orang tua saling mengenal, akan lebih mudah menyamakan persepsi dan membangun komunikasi yang sehat. Karena pada kenyataannya, konflik antar anak adalah hal yang wajar. Namun yang perlu dijaga adalah jangan sampai konflik anak selesai, sementara konflik orang tuanya belum selesai. Atau sebaliknya, orang tua sudah berdamai, tetapi anak masih menyimpan luka.
Paguyuban Kelas: Ruang Refleksi dan Tabayun
Paguyuban kelas dibentuk bukan tanpa tujuan. Ia hadir sebagai ruang refleksi orang tua, ruang untuk saling mengenal anak dan keluarganya, serta tempat membangun empati. Dengan adanya ketua dan pengurus paguyuban yang telah dipilih, diharapkan muncul momen-momen silaturahim yang terencana dan bermakna.
Di dalamnya, ada ruang tabayun—ruang untuk bertanya dengan hati yang jernih, bukan prasangka. “Oh, ternyata anaknya seperti ini,” atau “Oh, orang tuanya begini cara mendampingi.” Dari sini, orang tua belajar memahami konteks, bukan sekadar menilai hasil.
Karena realitanya, menyelesaikan persoalan anak membutuhkan proses yang utuh—melibatkan anak dan orang tua secara bersama-sama.
Pesan Bermakna: Orang Tua adalah Support System Utama
Pesan ini selaras dengan penutupan yang disampaikan Bu Ni’mah selaku Kepala SD Islam Bintang Juara dalam sesi parenting kelas 2. Beliau mengajak orang tua untuk terus menjaga silaturahim, saling mengenal, dan membangun komunikasi yang terbuka.
Sekolah bukan tempat menitipkan anak sepenuhnya. Ayah dan Bunda adalah support system utama dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Karena itulah, silaturahmi antar orang tua menjadi kebutuhan, bukan sekadar pelengkap.
Dengan hati dan pikiran yang terbuka, ikhtiar ini diharapkan menjadi jalan yang Allah ridai. Orang tua pun dilatih menjadi pribadi dewasa yang lebih mampu mengelola emosi. Dan dari sanalah, anak-anak akan mewarisi satu bekal penting dalam hidupnya: regulasi emosi yang sehat.
Penutup
Playdate paguyuban kelas bukan hanya tentang anak bermain bersama. Ia adalah tentang orang tua belajar bersama, menyatukan visi, dan membangun ekosistem pengasuhan yang selaras. Ketika anak dan orang tua sama-sama merasa aman, dipahami, dan didukung, maka proses tumbuh kembang anak pun akan berjalan lebih utuh dan bermakna.
Nah, kapan nih paguyuban kelas putra-putri ayah bunda mengadakan playdate? Atau malah sudah terlaksana? Boleh dong ramaikan kolom komentar tentang playdate kelasnya masing-masing agar kelas yang belum melaksanakan, bisa makin semangat melaksanakannya.*** (CM-MRT)