Liburan sering kali identik dengan waktu luang yang panjang. Di satu sisi, ini menjadi kesempatan emas untuk mempererat hubungan keluarga.
Namun di sisi lain, tanpa perencanaan yang tepat, liburan justru bisa berubah menjadi masa di mana anak tenggelam dalam layar gawai tanpa batas. Dari keresahan inilah, Webinar “No More Gadget Overload” hadir sebagai ruang belajar bersama bagi para orang tua.
Webinar ini diselenggarakan pada Sabtu, 13 Desember 2025 melalui kanal YouTube SD Islam Bintang Juara, menghadirkan diskusi yang relevan dan reflektif tentang bagaimana orang tua dapat mendampingi anak di era digital dengan lebih sadar, bijak, dan berjangka panjang.
Daftar Isi
Belajar dari Ahlinya: Tantangan Orang Tua di Era Digital
Webinar No More Gadget Overload menghadirkan dua narasumber inspiratif. Narasumber pertama adalah Mustafa, S.T., M.M., M.Kom., fasilitator Sekolah Penggerak, dosen Teknik Informatika UNISULA, serta fasilitator coding dan kecerdasan artifisial BBGTK Jawa Tengah.
Dalam pemaparannya, Pak Mus menegaskan bahwa tantangan terbesar orang tua hari ini bukan hanya soal bahaya gadget, melainkan kurangnya strategi pendampingan yang tepat di era digital. Anak hidup di dunia yang tidak bisa dipisahkan dari teknologi, sehingga pendekatan melarang sepenuhnya bukanlah solusi jangka panjang.
Regulasi Sudah Ada, Peran Orang Tua Tetap Penentu
Pembatasan penggunaan gadget sejatinya bukan isu baru. Di Indonesia, pemerintah telah menghadirkan PP TUNAS (Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik untuk Perlindungan Anak) sebagai upaya melindungi anak di ruang digital.
Tujuan regulasi ini mencakup perlindungan anak, pemenuhan hak digital, hingga penguatan peran orang tua dan masyarakat. Namun, regulasi tidak akan bermakna tanpa pemahaman dan praktik nyata di lingkungan keluarga. Di sinilah peran orang tua menjadi kunci utama.

Gadget Bukan Musuh, Tapi Perlu Dikendalikan dengan Bijak
Dalam webinar ini ditekankan bahwa gadget bukanlah musuh anak. Risiko justru muncul ketika anak terpapar gawai tanpa pendampingan yang memadai. Dampaknya bisa berupa ketergantungan layar, risiko konten negatif, hingga terhambatnya perkembangan berpikir kritis, kreativitas, dan regulasi emosi.
Sering kali, akar masalah bukan pada anak, melainkan pada orang dewasa—mulai dari keterbatasan pengetahuan hingga alasan klasik kesibukan yang tanpa disadari berdampak jangka panjang.
Langkah Preventif yang Bisa Dimulai dari Rumah
Webinar ini membekali orang tua dengan langkah-langkah sederhana namun penting, antara lain:
- Menetapkan aturan screen time keluarga
- Menciptakan zona dan waktu bebas gadget
- Menggunakan parental control sesuai usia anak
- Memberi teladan penggunaan gadget yang sehat
- Mendampingi anak dalam penggunaan teknologi dan AI agar tetap melatih nalar kritis dan kreativitas
Pendampingan bukan berarti melarang, tetapi mengajak anak berdiskusi tentang tujuan, manfaat, dan risiko teknologi dalam kehidupannya.
Dari Konsumsi ke Produksi: Gadget sebagai Alat Berkarya
Anak perlu diarahkan untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta karya. Sejalan dengan kebijakan nasional tentang coding dan kecerdasan artifisial, Sekolah Islam Bintang Juara mendorong pemanfaatan gadget secara produktif melalui berbagai program edukatif.
Dengan pendekatan ini, anak belajar bahwa teknologi dapat digunakan untuk berkarya, berkolaborasi, dan memecahkan masalah—bukan sekadar hiburan pasif.
Mengelola Screen Time Anak dengan Bijak: Refleksi Edukatif bersama Bunda Vivi Psikolog
Narasumber yang kedua dalam webinar ini adalah Bunda Vivi Psikolog. Founder Sekolah Islam Bintang Juara, Biro Psikologi Qualifa dan Bimbel Smart n Fun Home.
Bunda Vivi Psikolog menegaskan bahwa anak-anak hari ini adalah digital native. Mereka lahir dan tumbuh di lingkungan yang sarat teknologi. Maka, tantangan terbesar orang tua bukan sekadar “boleh atau tidak boleh gadget”, melainkan bagaimana gadget digunakan dan didampingi.
Screen time sejatinya tidak selalu berdampak negatif. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, anak berisiko mengalami:
- Penurunan fokus dan konsentrasi
- Kesulitan regulasi emosi
- Minim interaksi sosial nyata
- Ketergantungan pada stimulasi instan
Bunda Vivi mengajak orang tua memahami bahwa yang lebih berbahaya bukan lamanya layar, tetapi kosongnya relasi. Anak yang bermain gadget tanpa kehadiran emosional orang tua berpotensi kehilangan ruang dialog dan refleksi.
Screen Time Aktif vs Pasif: Orang Tua Perlu Tahu Bedanya
Dalam pemaparannya, Bunda Vivi menjelaskan dua jenis screen time:
- Screen Time Pasif
Anak hanya menonton tanpa interaksi, berpindah konten tanpa tujuan, dan minim stimulasi berpikir. - Screen Time Aktif
Anak terlibat dalam proses berpikir, berkreasi, berdiskusi, dan menghasilkan karya.
Masalah utama yang sering terjadi adalah dominasi screen time pasif, terutama saat liburan sekolah. Anak “tenang”, tetapi sesungguhnya tidak sedang tumbuh.
Pendekatan 3R: Kunci Orang Tua Hadir di Dunia Digital Anak
Sebagai solusi praktis, Bunda Vivi memperkenalkan pendekatan 3R yang bisa diterapkan di rumah:
- Replace (Mengganti)
Ganti sebagian screen time pasif dengan aktivitas bermakna seperti proyek kreatif, membaca, eksplorasi lingkungan, atau kegiatan kolaboratif.
- Regulate (Mengatur)
Tetapkan aturan waktu, konten, dan momen bebas gadget, terutama saat makan, ibadah, dan sebelum tidur.
- Review (Merefleksi)
Amati perubahan perilaku, emosi, dan kebiasaan anak. Evaluasi secara berkala bersama anak, bukan sepihak.
Pendekatan ini menekankan bahwa kontrol terbaik adalah relasi yang sehat, bukan sekadar aturan kaku.
Liburan Sekolah: Titik Kritis Screen Time Anak
Liburan sering kali menjadi fase paling rawan gadget overload. Rutinitas sekolah berhenti, sementara kebutuhan stimulasi anak tetap tinggi. Tanpa alternatif yang tepat, gadget menjadi pelarian paling mudah.
Namun, di sisi lain, liburan juga bisa menjadi ruang emas untuk pertumbuhan karakter, kreativitas, dan keterampilan abad 21—jika dirancang dengan tepat.
Funtastic Holiday Program: Solusi Liburan Bermakna Tanpa Gadget Overload
Menjawab tantangan tersebut, SD Islam Bintang Juara menghadirkan Funtastic Holiday Program, sebuah program liburan yang dirancang kreatif, inovatif, dan komunikatif, dengan menggabungkan teknologi, kreativitas, dan bahasa Inggris secara seimbang.
Program ini bukan menjauhkan anak dari teknologi, tetapi mengubah posisi anak dari konsumen menjadi kreator.

Tiga Program Unggulan Funtastic Holiday
- Content Creator Cilik
📅 29 Desember 2025 | ⏰ 08.30–15.00
👧🧒 Kelas 4–6 SD & SMP
Anak belajar:
- Dasar storytelling digital
- Teknik foto & video sederhana
- Editing mandiri menggunakan CapCut
Output akhir berupa video pendek 90 detik. Anak belajar bertanggung jawab terhadap karya digitalnya. Fasilitator: Kak Iyana Anifa & Kak Sinta Anggi.
- Robotic Camp
📅 30 Desember 2025
👧🧒 Kelas 1–6 SD & SMP
Materi meliputi:
- Pengenalan komponen robotika
- Prinsip kerja controller
- Merakit dan menguji robot penjelajah
Anak dilatih logika, problem solving, dan kolaborasi. Fasilitator: Tim Kompeten.id.
- Fun English Program
📅 31 Desember 2025
👧🧒 Kelas 1–6 SD & SMP
- Kelas 1–3: basic conversation & vocabulary
- Kelas 4–6: English for Presentation & public speaking
Anak belajar percaya diri berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Fasilitator: Ibu Quinta Gadis Mahadewi & Ibu Marita Ningtyas.
Menutup Layar, Membuka Masa Depan Anak
No more gadget overload bukan berarti tanpa teknologi. Justru sebaliknya—anak perlu pendampingan, arah, dan ruang tumbuh yang tepat. Ketika orang tua hadir secara sadar, dan sekolah menyediakan program yang relevan, anak akan tumbuh seimbang secara akademik, emosional, dan sosial.
Melalui refleksi bersama Pak Mus dan Bunda Vivi Psikolog, serta hadirnya Funtastic Holiday Program, Sekolah Islam Bintang Juara terus berikhtiar menjadi support system terbaik orang tua dalam mendampingi anak di era digital.*** (CM-MRT)