Buka Bersama Yayasan Dewi Sartika: Rahasia Pemimpin Dicintai & Dikenang

By adminbj

Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperkuat hubungan, melunakkan hati, dan memperbaiki diri.

Pada Sabtu, 14 Maret 2026, keluarga besar Yayasan Dewi Sartika Semarang berkumpul dalam sebuah momen hangat bertajuk: “Merajut Ukhuwah: Kunci Pemimpin yang Berkualitas.”

Kegiatan buka bersama ini menghadirkan tausiyah inspiratif dari Ustaz Yus Ibnu Yasin, yang mengajak seluruh peserta untuk melihat kembali makna kepemimpinan—bukan sekadar posisi, tetapi tentang bagaimana membangun hubungan yang dilandasi iman.

Kepemimpinan Dimulai dari Ukhuwah

    Dalam pemaparannya, Ustaz Yus menegaskan bahwa kepemimpinan yang kuat tidak dibangun dari kekuasaan, tetapi dari ukhuwah (persaudaraan).

    Karena sejatinya, ukhuwah adalah barometer iman. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

    Resep Kepemimpinan dalam Ukhuwah

      Ada lima kunci kepemimpinan yang dibagikan dalam kajian ini. Bukan teori semata, tetapi prinsip yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia pendidikan.

      1. Dicintai

        Seorang pemimpin harus dicintai oleh orang-orang yang dipimpinnya.

        Mengapa ini penting?

        • Orang tidak akan mengikuti jika hanya merasa takut
        • Orang tidak akan terbuka jika pemimpinnya terasa dingin
        • Tanpa rasa aman, tidak akan ada loyalitas

        Di lingkungan sekolah, ini berarti:

        • Kepala sekolah yang dekat dengan guru
        • Guru yang hangat dengan murid

        Pemimpin yang hadir, bukan sekadar memberi instruksi. Cinta melahirkan keterikatan. Dan keterikatan melahirkan kekuatan tim.

        2. Dipercaya

          Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang amanah.

          Kepercayaan dibangun dari:

          • Konsistensi
          • Kejujuran
          • Integritas

          Ketika orang percaya, mereka akan merasa tenang. Tidak ada keraguan, tidak ada prasangka berlebihan.

          Dalam dunia pendidikan, trust ini menjadi pondasi utama. Karena tanpa kepercayaan, kolaborasi akan rapuh.

          3. Diikuti

            Pemimpin bukan hanya didengar, tetapi juga diikuti. Orang bergerak karena:

            • Ada arah yang jelas
            • Ada keberanian dalam mengambil keputusan
            • Ada hasil nyata yang bisa dirasakan

            Tanpa hasil, kepemimpinan hanya berhenti pada retorika. Di sinilah pentingnya visi. Pemimpin harus tahu ke mana arah yang dituju, dan mampu mengajak tim berjalan bersama ke sana.

            4. Diteladani

              Ini adalah level yang lebih tinggi. Ketika pemimpin tidak hanya memberi perintah, tetapi menjadi contoh hidup.

              Beberapa prinsip penting yang disampaikan oleh Ustaz Yus Ibnu Yasin tentang bagaimana seorang bisa diteladani:

              • Leaders deal with tough issues. Pemimpin harus selalu siap dengan surprise. pemimpin tidak boleh takut dengan hal hal yang tidak disukai
              • Always have time to listen. sesibuk apapun, luangkan waktu untuk mendengar masukan, input, feedback dari orang orang disekitar
              • Leaders cannot satisfy everybody. selalu akan ada yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan. boleh punya lawan, tapi jangan sampai punya musuh
              • Leadership is a process. jangan pernah merasa sudah tahu semuanya dan berhenti belajar, Learning is individual responsibility. siap belajar dengan siapapun, apapun jabatan mereka
              • Treat everybody the same. respect other, jabatan akan berakhir dan hubungan akan berlanjut
              • Self Lead. seorang role model harus selesai dengan dirinya terlebih dahulu.
              • Job of Leader is create more leaders. give Legacy, give life twice

              5. Dikenang

              Inilah puncak kepemimpinan. Ketika nama seseorang tetap dikenang, bahkan setelah ia tidak lagi menjabat. Fondasinya adalah legacy (warisan).

              Cara mencapainya:

              • Genapkan yang ganjil (menyempurnakan yang belum selesai)
              • Tinggalkan budaya, bukan hanya program, karena program bisa berhenti, tetapi budaya akan terus hidup.

              Ukhuwah: Dari Kenal hingga Berkorban

                Ukhuwah tidak terjadi begitu saja. Ia memiliki tahapan yang perlu dibangun secara sadar:

                • Ta’aruf – Saling mengenal
                • Tafahum – Saling memahami
                • Ta’awun – Saling membantu
                • Takaful – Saling menanggung
                • Itsar – Saling berkorban

                Semakin tinggi tahapnya, semakin kuat hubungan yang terjalin.

                Langkah Praktis Menguatkan Ukhuwah

                  Dalam keseharian, ukhuwah bisa diperkuat melalui langkah sederhana:

                  • Menutup aib saudara
                  • Saling memaafkan
                  • Melapangkan kesulitan orang lain
                  • Melakukan tabayyun (klarifikasi sebelum berprasangka)

                  Hal-hal kecil ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar dalam menjaga hubungan.

                  Belajar Mencintai Tanpa Membenci

                    Salah satu pesan yang sangat menyentuh adalah tentang bagaimana menyikapi kesalahan orang lain.

                    Solusinya:

                    • Doakan
                    • Lapangkan hati
                    • Beri ruang untuk berubah

                    Karena bisa jadi, orang yang hari ini salah, esok hari menjadi lebih baik.

                    Tujuan Ukhuwah: Lebih dari Sekadar Kebersamaan

                      Ukhuwah bukan hanya tentang kebersamaan, tetapi tentang tujuan yang lebih besar:

                      Kebaikan

                        Setiap hubungan harus membawa pada kebaikan. Saling menasehati dalam kebaikan. Saling mengingatkan dengan tujuan lillahita’ala.

                        Kebahagiaan

                          Kebahagiaan ini memiliki tiga dimensi:

                          • Fisik: gaji, fasilitas, kebutuhan materi
                          • Emosi: apresiasi, pujian, validasi
                          • Spiritual: ketenangan hati, keberkahan hidup

                          Fisik dan emosi hanyalah sementara. Ukhuwah yang kuat akan sampai pada tahap spiritual.

                          Penutup: Kepemimpinan yang Melahirkan Cinta

                          Buka bersama ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi ruang refleksi bagi seluruh keluarga besar Yayasan Dewi Sartika.

                          Bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang membuat orang patuh, tetapi membuat orang mencintai karena Allah. Ketika itu terjadi, yang lahir bukan hanya organisasi yang kuat, tetapi juga hubungan yang penuh keberkahan.

                          Semoga nilai-nilai ini terus tumbuh dan mengakar, menjadi bekal dalam mendidik generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki hati yang kuat dan penuh kasih.

                          Karena pada akhirnya, pemimpin terbaik adalah mereka yang tidak hanya memimpin, tetapi juga menguatkan, menginspirasi, dan meninggalkan jejak kebaikan.*** (CM-MRT)

                          Leave a Comment