Webinar Parenting Ramadan adalah kegiatan tahunan yang selalu dinanti oleh wali murid Sekolah Islam Bintang Juara. Untuk menyambut Ramadan 1447 Hijriah, PAUD dan SD Islam Bintang Juara mengundang Yus Ibnu Yassin sebagai narasumber webinar parenting kali ini.
Daftar Isi
- 1 Siapakah Yus Ibnu Yassin?
- 2 Mengulik Masalah Utama Pengasuhan
- 3 Momentum Terbaik Tanamkan Adab
- 4 Cara Pasti Agar Anak Beradab: Kenali 5 Akar Masalahnya
- 4.1 1. Banyak Keluarga Muslim Terlalu Cepat Mengejar Hasil, tapi Lupa Menanam Pondasi Adab.
- 4.2 2. Orang Tua Merasa Tugasnya Selesai dengan Mengawasi, padahal Tugas Utamanya adalah Menjadi Teladan Hidup.
- 4.3 3. Orang Tua Ingin Anak Beradab, tapi Emosinya Sendiri Belum Beradab.
- 4.4 4. Anak Tidak Haus Hiburan, Anak Haus Kedekatan Emosional.
- 4.5 5. Krisis Pengasuhan Bukan Krisis Anak, tapi Krisis Keteladanan Orang Tua.
Siapakah Yus Ibnu Yassin?
Beliau merupakan Founder & CEO Maqna Consulting yang telah melanglang buana sebagai pembicara parenting sejak 2006. Beliau banyak berbagi tentang school culture, core values internalization, personality development dan mental health specialist.
Nah, pada Sabtu, 14 Februari 2026 ini, Ustaz Yus Ibnu Yassin akan membagikan materi tentang Ramadan sebagai Momentum untuk Menguatkan Pengasuhan Penanaman Adab di dalam Keluarga.
Mengulik Masalah Utama Pengasuhan
Sebelum masuk ke materi pokok, Ustaz Yus Ibnu Yassin mengajak para orang tua untuk mengenali apa saja yang menjadi masalah utama pengasuhan, di antaranya:
1. Lemahnya Peran Ayah
Jangan mengira bahwa tugas seorang Ayah hanyalah mencari nafkah. Ayah adalah Qowammah, bukan sekadar imam, tapi juga kepala sekolah di rumah. Sayangnya saat ini peran Ayah makin melemah. Banyak ayah yang mengecilkan perannya hanya sebagai pencari nafkah, padahal mencari nafkah hanyalah salah satu peran. Sementara peran ayah yang utama adalah menjadi pendidik bagi keluarganya.
2. Luka di Masa Lalu
Selain lemahnya peran ayah, luka-luka di masa lalu orang tua yang belum pulih dan terselesaikan akan berdampak pada proses pengasuhan anak. Oleh karenanya sebagai orang tua kita perlu segera sadar jika memang memiliki luka yang belum pulih, dan segera bangkit untuk memulihkan diri agar pengasuhan anak bisa lebih optimal.
3. Tidak Adanya Ruang Aman
Ketika orang tua tidak bisa memberikan ruang aman kepada anak, maka proses pengasuhan tidak akan berlangsung maksimal.
Apakah ketiga masalah tersebut ada dalam keluarga Ayah Bunda? Jika ada, maka sebelum mengulik cara menguatkan pengasuhan adab pada anak-anak, PR utamanya adalah menyelesaikan dulu masalah dasar ini.
Momentum Terbaik Tanamkan Adab
Adab adalah kunci pengasuhan. Kita seringkali berbondong-bondong fokus pada penguasaan lifeskill dan wawasan anak-anak, tapi melupakan bahwa adab adalah dasar dari semua pendidikan.
Mendidik adab dimulai dari orang tuanya. Baik menurut anak adalah apa yang dilakukan orang tuanya meski yang dilakukan itu tidak baik. Begitu pula buruk menurut anak adalah apa yang tidak dilakukan oleh orang tuanya meski yang tidak dilakukannya itu baik.
Oleh karenanya sebagai orang tua, kita harus bisa memberikan TELADAN TERBAIK untuk mereka.
Dalam proses menanamkan adab, maka berikut ini tahapan yang harus dilalui:
1. Didoakan
Doa adalah seni dari segala ketidakmungkinan. Ikhtiar sebaik apapun haruslah diikat dengan doa, sebagai tanda bahwa kita melibatkan Allah dalam segala urusan, termasuk juga soal mengasuh anak.
Allah adalah pemilik setiap ruh yang ada di semesta. Ketika terlalu berat proses pengasuhan, senantiasa doakan agar Allah memberikan kemudahan dalam setiap prosesnya, juga agar kita senantiasa mendapat petunjuk dalam menjalani proses mendidik dan membina anak-anak.
2. Dicontohkan
Bukan sekadar diperintahkan, tapi juga diberikan keteladanan. Kalau kata orang Jawa, jangan jarkoni. Isa ujar, ora isa nglakoni. Atau kalau diartikan, bisa menasehati, tapi tidak bisa melakukan nasehat yang diberikan.
3. Dibiasakan
Setelah diberikan teladan, tahap berikutnya adalah melatih adab-adab tersebut dalam keseharian, agar kemudian tumbuh sebagai habit. Bisa diawali dengan membuat jurnal adab, lalu minta anak untuk mengisinya setiap berhasil menjalankan adab yang tertulis pada jurnal tersebut.
4. Dimotivasi
Hal terpenting dalam tahap ini adalah “Connecting before Correcting.” Memotivasi itu berbeda dengan menyalahkan. Bahkan dalam tahap correcting pun, sebagai orang tua harus terlebih dulu lulus tahap connecting.
Kelekatan emosi antara orang tua dan anak haruslah terbentuk terlebih dahulu, sebelum orang tua bisa memberikan koreksi dan motivasi yang bisa diterima oleh anak.
5. Ditegakkan
Dalam menegakkan adab, orang tua perlu menyadari bahwa seringkali kita terlalu sering membela dan jarang membina anak. Padahal terlalu membela anak, justru bisa melahirkan bibit-bibit NPD dalam diri anak. Ustaz Yus Ibnu Yassin juga memaparkan beberapa penelitian yang menguatkan hal tersebut.
Sebagai orang tua kita harus proporsional dalam menegakkan batasan, karena mendidik tidak bisa mendadak.
Menanam benih bukanlah menekan tombol. Anak-anak kita bukanlah mesin, yang bisa langsung taat hanya karena orang tua ingin. Butuh dibiasakan, disirami, dam diterangi.
Sebagaimana contohnya, bangun pagi tidak bisa dipesan instan. Kalau kita ingin anak bangun saat Subuh, maka kita tidak boleh membiarkan anak tidur terlalu larut.
Tulang anak memang masih lunak, tapi karakter tidak bisa dibentuk dengan kekerasan.
Berikut ini beberapa penelitian yang menguatkan hal tersebut:
- Dr. James Clear dalam buku Atomic Habits (2018), “Identitas seseorang dibentuk dari kebiasaan kecil yang konsisten.” Artinya, anak menjadi siapa bukan karena momen besar, tapi karena pola kecil yang diulang tiap hari.
- Studi Lally et al. (2009), University College London, “Dibutuhkan rata-rata 66 hari untuk membentuk satu kebiasaan baru. Jadi pendidikan karakter butuh waktu, bukan amarah sesaat.”
- Jean Piaget (ahli perkembangan kognitif): Anak usia SD sedang berada pada tahap konkret operasional, artinya mereka belajar lewat pengulangan, contoh nyata, bukan teori.
Cara Pasti Agar Anak Beradab: Kenali 5 Akar Masalahnya
Adab sebaiknya menjadi pondasi pendidikan dan pengasuhan anak, oleh karenanya kita perlu mengenali akar masalah yang banyak terjadi dalam keluarga muslim.
1. Banyak Keluarga Muslim Terlalu Cepat Mengejar Hasil, tapi Lupa Menanam Pondasi Adab.
Hal ini terlihat bahwasanya banyak orang tua kehilangan peran,justru berubah jadi sekadar pengawas.
Coba cek apakah di rumah-rumah Ayah Bunda menemukan gejala ini:
- Orang tua sibuk mengatur, tapi lupa mencontohkan
- Banyak memberikan instruksi, tapi minim kehadiran
- Anak “disuruh baik”, tapi tidak merasa ditemani
Jika gejalanya mulai terlihat, maka sudah saatnya untuk menghentikan dan memperbaiki pola pengasuhan di rumah.
2. Orang Tua Merasa Tugasnya Selesai dengan Mengawasi, padahal Tugas Utamanya adalah Menjadi Teladan Hidup.
Hal ini nampak ditemukan dalam keluarga yang mulai mengecilkan derajat atau pentingnya menanamkan adab, dan lebih mementingkan target.
Coba cek apakah di rumah Ayah Bunda menemukan gejala berikut:
- Orang tua lebih fokus ke nilai, hafalan dan prestasi
- Tapi abai pada cara bicara, cara marah dan cara menghormati
Jika iya, maka ayo segera bertaubat, hentikan dan ubah fokus kita.
Dari kacamata psikologi, anak bisa tumbuh pintar tapi jika tidak matang secara emosi, maka akan berbahaya untuk tumbuh kembangnya. Di sinilah lagi-lagi pentingnya keteladanan. Karena moral tanpa teladan, akan tumbuh dengan rapuh.
Hal ini juga diperkuat dengan perkataan dari Imam Malik,“Kami belajar adab sebelum ilmu.” Betapa pendidikan yang diterapkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya lebih mengutamakan adab di atas ilmu.
3. Orang Tua Ingin Anak Beradab, tapi Emosinya Sendiri Belum Beradab.
Semakin banyak munculnya kasus-kasus kekerasan saat ini, bahkan dilakukan oleh anak-anak di bawah umur banyak dipicu karena ia melihat teladan yang kurang tepat. Saat ini banyak orang tua yang gagal mendidik emosinya sendiri, sehingga bagaimana ia akan mampu mendidik emosi anaknya?
Contoh, orang tua mudah marah saat lelah, mudah berteriak atas nama mendidik, dan mudah mengancam atas nama disiplin. Apakah dengan hal-hal tersebut adab akan terbentuk? Justru sebaliknya, ia akan menduplikasi perilaku orang tuanya.
Jika hal-hal di atas masih sering Ayah Bunda lakukan, mari kita pelan-pelan menghentikan dan mengubahnya.
4. Anak Tidak Haus Hiburan, Anak Haus Kedekatan Emosional.
Salah satu akar dari permasalahan pengasuhan yang melahirkan anak-anak kurang beradab adalah lemahnya koneksi antara orang tua dan anak.
Rumah yang kehilangan kehangatan, akan membuat anak mudah kehilangan arah. Akhirnya, anak lebih betah bermain gadget, lebih terbuka ke luar daripada ke orang tua. Rumah hanya berakhir sebagai tempat instruksi, bukan sebagai tempat pulang.
Solusinya tentu saja dengan membangun keluarga yang sakinah. Yaitu keluarga yang bisa memberikan ruang aman bagi setiap anggota di dalamnya.
5. Krisis Pengasuhan Bukan Krisis Anak, tapi Krisis Keteladanan Orang Tua.
Orang tua hanya fokus mendidik anak, tapi lupa tidak mendidik dirinya. Misal, menuntut anak sabar, tapi diri sendiri mudah meledak. Menuntut anak sopan, tapi orang tua justru bicara kasar. Menuntut anak taat, tapi orang tua inkonsisten.
Dilihat dari kacamata psikologi, kondisi ini menyebabkan integrity gap yang justru akan merusak otoritas moral orang tua. Ingat, Ayah Bunda.. anak membaca perilaku, bukan nasihat. Childreen see, children do.
Sejalan juga dengan pendidikan Islami, bahwasanya Allah SWT tidak bertanya “anakmu bagaimana?” sebelum bertanya “kamu bagaimana?”
Dari kelima akar masalah di atas, jika diperas menjadi satu, maka akan bermuara menjadi satu hal terpenting;
Orang tua ingin anak beradab, tapi lupa bahwa adab itu diwariskan lewat kehidupan, bukan lewat perintah.
Oleh karenanya, bulan Ramadan merupakan momen yang paling pas untuk mereset semua pola-pola yang salah dalam hidup selama ini, termasuk juga bagaimana kita dalam mendidik dan mengasuh anak.
Pada bulan Ramadan ini, sudah seharusnya orang tua menjadikannya sebagai bulan tazkiyatun nafs, bulan melatih sabar, mengoptimalkan kehadiran fisik dan psikis, dan menahan ego. Mari jadikan bulan ini untuk memperbaiki cara mendidik, bukan hanya mengoreksi jadwal ibadah.
Ustaz Yus Ibnu Yassin menutup webinar parenting Ramadan 1447 Hijriah dengan nasehat yang sangat indah;
“Anak tidak kehilangan adab karena kurang dinasihati. Anak kehilangan adab karena kurang diteladani.”
Buat ayah bunda yang tertinggal sesi parenting ini, silakan bisa menonton langsung rekamannya melalui link berikut:
Semoga bermanfaat, dan sampai jumpa pada webinar parenting Ramadan selanjutnya, Ayah Bunda!*** (CM-MRT)