Belajar Mendampingi Anak Mengakses Gadget Tanpa Drama Bersama Kak Mumu Awaluddin

By adminbj

“Dulu kalau bosan, kita cari teman main. Anak sekarang kalau bosan, cari HP.”

Kalimat sederhana itu membuat suasana Webinar Parenting SD Islam Bintang Juara pada Sabtu, 16 Mei 2026 terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak keluarga. Tidak sedikit ayah bunda yang tersenyum kecil, lalu perlahan terdiam karena merasa “terkena”.

Tema webinar kali ini memang sangat relevan dengan kehidupan orang tua masa kini: “Ketika Layar Terlalu Dekat, Hati Anak Menjadi Jauh: Seni Mendampingi Anak Mengakses Gadget Tanpa Drama di Rumah.”

Jika pada sesi pertama peserta sudah belajar cara mendampingi anak mengakses gadget bersama Bunda Vivi Psikolog, maka pada sesi kedua, Kak Mumu Awaluddin hadir membawa sudut pandang yang lebih personal, reflektif, sekaligus menyentuh hati.

Bukan sekadar teori parenting. Bukan hanya tips mengurangi screen time. Tetapi kisah nyata seorang anak muda yang pernah tenggelam dalam kecanduan game online selama bertahun-tahun… hingga akhirnya menemukan jalan pulang.

Dari Kecanduan Game Menuju Jalan Dakwah

Di awal sesi, Kak Mumu memperkenalkan dirinya sebagai Co Founder & Direktur Fammi sekaligus Trainer Parenting dan Edukasi Anak Remaja. Namun siapa sangka, di balik aktivitas dakwah dan edukasi yang kini beliau jalani, ternyata ada masa lalu yang sangat berat.

Beliau bercerita bahwa dulu dirinya sangat kecanduan game online. Bukan hanya beberapa bulan, tetapi belasan tahun. Hari-harinya banyak dihabiskan di depan layar. Dunia virtual terasa lebih menyenangkan dibanding dunia nyata.

  • Waktu tidur berantakan.
  • Aktivitas ibadah terganggu.
  • Hubungan dengan lingkungan sekitar pun perlahan menjauh.

Kisah itu menjadi pengingat kuat bahwa kecanduan gadget bukan hal sepele. Banyak orang menganggap anak yang terlalu sering bermain gadget hanyalah “fase biasa”. Padahal tanpa pendampingan yang tepat, anak bisa perlahan kehilangan arah hidup.

Suasana webinar mendadak hening ketika Kak Mumu menceritakan titik balik hidupnya: kehilangan kedua orang tua.

Saat itu beliau merasa sangat putus asa.

“Untuk apa saya hidup? Orang tua yang ingin saya bahagiakan sudah tidak ada.”

Dalam kondisi kehilangan arah, tanpa sengaja beliau membuka Facebook. Scroll demi scroll dilakukan tanpa tujuan. Hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah hadits Rasulullah SAW:

Hadits itulah yang kemudian mengubah hidupnya.

Beliau mulai berpikir bahwa hidupnya tetap harus memiliki makna. Bahwa kebaikan yang ia lakukan bisa menjadi jalan pahala untuk kedua orang tuanya.

Dari sana Kak Mumu mulai perlahan bangkit. Mengurangi ketergantungan terhadap game, memperbaiki diri, lalu mulai menebar manfaat melalui seminar, webinar, dan edukasi parenting.

Cerita itu bukan hanya menyentuh, tetapi juga membuka mata banyak orang tua bahwa anak-anak hari ini tidak hanya membutuhkan larangan. Mereka membutuhkan pendampingan.

Anak Kita Bukan Kita

Salah satu poin penting yang disampaikan Kak Mumu adalah bahwa orang tua perlu memahami satu hal mendasar: Anak kita bukan kita.

Sering kali orang tua membandingkan masa kecil anak dengan masa kecil mereka dahulu.

“Dulu saya enggak pegang HP juga baik-baik saja.”

“Dulu saya main, tapi enggak kecanduan.”

Padahal lingkungan anak hari ini sangat berbeda.

Jika dulu anak bosan lalu keluar rumah mencari teman bermain, sekarang anak bosan lalu mencari layar. Hiburan tersedia hanya dalam satu sentuhan jari. Video, game, notifikasi, dan algoritma bekerja tanpa henti menarik perhatian anak.

Karena itu, menurut Kak Mumu, orang tua tidak bisa hanya melihat gadget dari sudut pandang “anak malas” atau “anak tidak disiplin”.

Kita perlu memahami bagaimana dunia digital bekerja terhadap otak anak.

Kenapa Anak Sangat Suka Main HP?

Kak Mumu menjelaskan bahwa kecanduan layar bukan semata-mata karena anak nakal.

Otak anak yang sedang berkembang merespons layar seperti menerima hadiah.

Setiap video baru, tantangan baru, atau suara baru memicu pelepasan dopamin di otak anak. Dopamin adalah zat kimia yang memunculkan rasa senang dan penasaran.

Akibatnya, anak ingin terus menonton. Terus scrolling. Terus bermain. Terus mencari hiburan berikutnya.

Tanpa sadar, layar melatih otak anak untuk terbiasa mendapatkan kesenangan secara instan.

Padahal kehidupan nyata tidak selalu instan. Ada proses. Ada perjuangan. Ada rasa bosan yang perlu dilewati untuk membangun daya juang.

Empat Dampak Gadget yang Diam-Diam Terjadi di Rumah

Dalam webinar tersebut, Kak Mumu mengajak ayah bunda mulai lebih peka terhadap perubahan kecil yang sebenarnya mulai tampak di rumah.

Ada empat dampak penggunaan gadget berlebihan yang sering terjadi tanpa disadari:

1. Perhatian Memendek

Anak menjadi sulit fokus dalam waktu lama karena terbiasa dengan konten cepat dan berpindah-pindah.

2. Emosi Tidak Stabil

Ketika gadget diambil, anak mudah marah atau frustrasi karena otaknya sudah terbiasa menerima stimulasi terus-menerus.

3. Tidur Terganggu

Paparan layar terutama malam hari membuat kualitas tidur menurun dan tubuh tidak benar-benar beristirahat.

4. Imajinasi Memudar

Dulu anak menciptakan permainan sendiri dari benda sederhana. Sekarang banyak anak lebih sering menjadi penonton dibanding pencipta permainan.

Padahal imajinasi adalah dasar kreativitas dan kemampuan berpikir anak.

Mendampingi Anak di Era Digital adalah Amanah

Kak Mumu mengingatkan bahwa mendampingi anak di era digital bukan hanya tren parenting, tetapi amanah besar bagi setiap orang tua.

Beliau mengutip QS. At-Tahrim ayat 6:

Serta hadits Rasulullah SAW:

Artinya, mendampingi anak menggunakan gadget bukan sekadar soal screen time. Tetapi tentang menjaga hati, pikiran, akhlak, dan masa depan mereka.

Sebelum Mengatur Anak, Siapkan Diri Kita Dulu

Salah satu bagian yang paling disukai peserta webinar adalah ketika Kak Mumu mengajak orang tua mulai berbenah dari diri sendiri terlebih dahulu.

Beliau menyampaikan beberapa langkah penting:

1. Kenali Platform yang Diakses Anak

  • Sudahkah ayah bunda tahu aplikasi yang paling sering dibuka anak?
  • Video seperti apa yang mereka tonton?
  • Game apa yang mereka mainkan?

Kita tidak bisa mendampingi sesuatu yang tidak kita pahami.

2. Aktifkan Fitur Keamanan

Teknologi juga bisa menjadi alat bantu jika digunakan dengan tepat, seperti:

  • Family Link
  • YouTube Kids
  • Pengaturan aplikasi ramah anak
  • Pengaturan batas waktu penggunaan

3. Buat Kesepakatan Bersama

Menurut Kak Mumu, aturan sebaiknya tidak hanya diucapkan, tetapi juga ditulis dan disepakati bersama anak.

Hal yang perlu disepakati antara lain:

  • Kapan boleh memegang gadget
  • Berapa lama durasinya
  • Di mana gadget boleh digunakan
  • Konten apa yang boleh ditonton
  • Konsekuensi jika aturan dilanggar

Lalu di akhir, orang tua dan anak bisa sama-sama menandatangani kesepakatan tersebut. Dengan cara ini, anak belajar tanggung jawab, bukan sekadar takut dimarahi.

4. Ubah Pertanyaannya

Kak Mumu juga mengajak orang tua mengubah sudut pandang.

Bukan lagi:

“Haruskah anak saya pegang gadget?”

Tetapi:

“Bagaimana gadget bisa bekerja untuk anak saya, bukan sebaliknya?”

Karena teknologi tidak mungkin dijauhkan sepenuhnya dari kehidupan anak. Yang perlu dibangun adalah kemampuan anak mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan olehnya.

Empat Bahaya yang Tidak Terlihat di Balik Layar

Selain dampak yang tampak, ada juga ancaman yang sering tidak disadari orang tua:

  1. Algoritma Tanpa Henti: Konten digital dirancang agar anak terus menonton.
  2. Pengaruh Teman Sebaya: Apa yang ditonton teman sering memengaruhi apa yang ingin diakses anak.
  3. Pengasuh dengan Standar Berbeda: Kadang aturan orang tua berbeda dengan aturan pengasuh atau lingkungan sekitar.
  4. Kita Sendiri: Anak belajar paling banyak dari apa yang dilakukan orang tuanya.

Sulit meminta anak berhenti bermain gadget jika orang tua sendiri terus menatap layar.

Cara Mengurangi Screen Time Tanpa Drama

Kak Mumu menegaskan bahwa perubahan tidak perlu dilakukan secara ekstrem.

1. Kurangi Perlahan

Jika anak sudah menggunakan gadget lebih dari dua jam setiap hari, lakukan perlahan:

  • Minggu 1–2: Umumkan aturan baru: “Mulai minggu depan kita kurangi ya jadi 2 jam.”
  • Minggu 3–4: Kurangi lagi 20–30 menit dan tambahkan aktivitas pengganti.
  • Minggu 5–6: Kurangi kembali 20–30 menit, lalu ajak anak ngobrol: “Apa yang terasa berbeda?” “Apa yang ingin diubah lagi?”
  • Minggu 7–8: Target tercapai. Berikan apresiasi kepada anak.

2. Bangun Percakapan, Bukan Interogasi

Daripada langsung memarahi, cobalah membuka percakapan sederhana.

Tiga pertanyaan yang bisa membantu membangun kepercayaan anak:

  • “Tadi nonton atau main apa? Ceritain dong ke Ayah dan Bunda.”
  • “Ada yang lucu atau aneh enggak?”
  • “Kalau bisa pilih, sekarang mau ngapain lagi?”

Kak Mumu juga mengingatkan untuk mengurangi penggunaan kata “kenapa”. Gunakan kata “apa” dan “bagaimana” agar anak tidak merasa dihakimi.

3. Mengenalkan Algoritma ke Anak SD

Menariknya, Kak Mumu juga memberikan contoh sederhana bagaimana menjelaskan algoritma kepada anak SD:

Anak perlu memahami bahwa tidak semua yang muncul di layar harus ditonton.

4. Empat Langkah Menghentikan Gadget Tanpa Rebutan

Agar tidak berakhir drama, Kak Mumu membagikan langkah praktis:

  • Alarm 15 Menit Sebelum : “Satu episode lagi ya, habis itu dimatikan.”
  • Ingatkan 5 Menit Sebelum : “Lima menit lagi, siap-siap ya.”
  • Ingatkan 1 Menit Sebelum : “Sebentar lagi selesai ya.”
  • Waktu Habis : “Sudah habis waktunya, sekarang kamu yang matikan.”

    Jangan langsung mengambil gadget secara paksa. Cara ini membantu anak belajar kontrol diri dan tanggung jawab.

    5. Konsekuensi yang Efektif

    Konsekuensi tidak perlu keras, tetapi harus konsisten.

    Contohnya:

    “Kita sudah sepakat 30 menit.”
    “Besok boleh main lagi kalau hari ini berhenti tepat waktu.”

    Duduk, lakukan kontak mata, lalu sampaikan dengan nada datar:

    “Waktunya habis.”

    Ketika Anak Mulai Bermain AI

    Menariknya, Kak Mumu juga membahas perkembangan AI yang kini mulai dekat dengan anak-anak.

    Daripada hanya melarang, orang tua justru perlu mulai mengenalkan penggunaan AI yang bijak, termasuk belajar membuat prompt sederhana.

    Komponen prompt yang bisa diajarkan:

    • Role → AI berperan sebagai apa
    • Action → apa yang diminta
    • Output → hasil yang diinginkan
    • Goal → tujuan penggunaan

    Karena masa depan anak bukan bebas teknologi. Tetapi mampu menggunakan teknologi secara sadar, cerdas, dan bertanggung jawab.

    Hati Anak Lebih Penting dari Layarnya

    Di akhir sesi, webinar parenting ini meninggalkan pesan yang begitu kuat.

    Bahwa mendampingi anak di era digital memang tidak mudah. Namun anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.

    Mereka membutuhkan orang tua yang hadir. Yang mau belajar. Yang mau mendengar. Yang terus bertumbuh bersama mereka.

    Karena sesungguhnya yang paling dibutuhkan anak bukan gadget terbaru atau internet tercepat. Tetapi hati yang hadir. Tatapan yang mendengar. Dan pelukan yang menenangkan.

    Sebab ketika hati anak dekat dengan orang tuanya, insyaAllah layar tidak akan mudah mengambil alih hidup mereka.*** (CM-MRT)

    Leave a Comment