Sabtu pagi, 16 Mei 2026, ruang webinar parenting SD Islam Bintang Juara dipenuhi wajah-wajah ayah dan bunda yang datang dengan keresahan yang sama.
Ada yang mulai bingung karena anak sulit lepas dari layar. Ada yang kewalahan menghadapi tantrum saat gadget diminta disimpan. Ada pula yang diam-diam mulai merasa hubungan dengan anak terasa renggang, meski setiap hari tinggal serumah.
Daftar Isi
- 1 Ketika Gadget Semakin Dekat, Mengapa Hati Anak Justru Bisa Menjauh?
- 2 Anak Tidak Hanya Butuh Aturan, Tetapi Kehadiran
Ketika Gadget Semakin Dekat, Mengapa Hati Anak Justru Bisa Menjauh?
Tema webinar kali ini begitu dekat dengan kehidupan keluarga modern: “Ketika Layar Terlalu Dekat, Hati Anak Menjadi Jauh — Seni Mendampingi Anak Mengakses Gadget Tanpa Drama di Rumah.”
Ada dua narasumber inspiratif yang dihadirkan dalam webinar parenting kali ini.
Materi pertama disampaikan oleh Dyah Indah Noviyani atau yang akrab disapa Bunda Vivi Psikolog, Ketua Yayasan Dewi Sartika, Founder Sekolah Islam Bintang Juara, sekaligus dosen PJJ Psikologi UICI.
Bukan sekadar membahas bahaya gadget, webinar ini justru mengajak ayah bunda memahami sesuatu yang lebih mendasar: bahwa anak sebenarnya tidak hanya membutuhkan layar yang dibatasi, tetapi juga hati yang ditemani.
Karena di era digital hari ini, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menjauhkan anak dari gadget. Namun bagaimana membuat anak tetap dekat dengan orang tuanya.
Gadget Bukan Musuh, Tetapi Perlu Pendampingan
Di awal materi, Bunda Vivi Psikolog mengingatkan bahwa gadget adalah teknologi yang memiliki dua sisi. Ia bisa menjadi alat belajar yang bermanfaat, tetapi juga dapat menjadi sumber masalah jika diberikan tanpa batas dan pendampingan.
Banyak orang tua merasa bersalah ketika anak mulai kecanduan layar. Padahal, persoalannya sering kali bukan semata-mata pada gadgetnya, melainkan bagaimana pola pendampingan yang dilakukan di rumah.
Anak-anak tumbuh di zaman yang berbeda dengan masa kecil orang tuanya. Dunia mereka dipenuhi video singkat, permainan digital, dan hiburan tanpa batas. Karena itu, orang tua tidak cukup hanya berkata “jangan main gadget terus”, tetapi perlu hadir sebagai pemandu.
Dalam webinar tersebut, Bunda Vivi menyampaikan bahwa orang tua perlu menjadi “pemandu digital”, bukan sekadar pengawas.
Artinya, ketika anak menatap layar, orang tua tidak boleh benar-benar menghilang.
Gadget Tidak Boleh Menjadi “Baby-Sitter”
Salah satu poin yang paling mengena adalah ketika Bunda Vivi Psikolog menyampaikan bahwa gadget bukan pengganti kehadiran orang tua.
Di tengah kesibukan, terkadang gadget menjadi jalan tercepat agar anak diam. Anak menangis diberi video. Anak bosan diberi permainan digital. Anak rewel disodori layar.
Memang terasa praktis. Rumah menjadi lebih tenang. Orang tua bisa menyelesaikan pekerjaan. Namun tanpa sadar, pola ini perlahan membangun jarak emosional.
Padahal, anak-anak sebenarnya tidak hanya butuh hiburan. Mereka membutuhkan koneksi.
Koneksi melalui pelukan. Tatapan mata. Obrolan sederhana. Tawa bersama. Bermain bersama. Bahkan sekadar duduk dan mendengarkan cerita kecil mereka.
Bunda Vivi menjelaskan bahwa kehadiran orang tua saat anak mengakses layar sangat penting untuk:
- memperkuat ikatan emosional,
- menghubungkan tontonan dengan dunia nyata,
- serta memastikan keamanan dan kualitas konten yang dikonsumsi anak.
Karena itu, mendampingi anak menonton jauh lebih bermakna dibanding membiarkan anak tenggelam sendirian di depan layar.
Resep 3 K-Si: Kunci Parenting di Era Digital
Salah satu bagian yang paling banyak dicatat peserta webinar adalah konsep 3 K-Si yang menjadi pendekatan khas dalam pengasuhan anak di era digital.
Kelekatan Emosi
Anak yang dekat secara emosional dengan orang tuanya cenderung lebih mudah diarahkan.
Kelekatan ini dibangun melalui:
- pelukan,
- kegiatan bersama,
- bermain bersama,
- dan kehadiran penuh orang tua.
Sering kali anak meminta gadget bukan karena benar-benar membutuhkan layar, tetapi karena merasa kesepian.
Maka sebelum melarang gadget, orang tua perlu bertanya: “Sudahkah aku cukup hadir untuk anakku hari ini?”
Komunikasi
Anak perlu didengar, bukan hanya diperintah.
Bunda Vivi Psikolog menekankan pentingnya:
- dialog,
- diskusi,
- dan mendengarkan anak.
Alih-alih langsung memarahi anak saat bermain gadget terlalu lama, orang tua bisa mengajak anak berdiskusi:
“Menurut kakak, berapa lama waktu main yang sehat?”
“Setelah ini kita mau aktivitas apa bersama?”
Komunikasi yang baik membuat anak merasa dihargai, bukan dikontrol sepenuhnya.
Konsistensi
Aturan tanpa konsistensi hanya akan membingungkan anak.
Karena itu, perlu ada:
- batasan yang jelas,
- aturan yang tegas,
- dan kesepakatan yang dijalankan bersama.
Jika hari ini gadget dibatasi tetapi besok dibebaskan tanpa aturan, anak akan kesulitan memahami pola yang benar.
Konsistensi memang tidak mudah. Namun justru di situlah letak perjuangan pengasuhan.
Prinsip 4D dalam Penggunaan Gadget
Selain 3 K-Si, webinar ini juga memperkenalkan prinsip 4D dalam mendampingi anak mengakses gadget.
- Dibutuhkan – Gadget digunakan karena memang diperlukan, bukan sekadar kebiasaan.
- Dipinjami – Anak tidak harus memiliki gadget pribadi sejak dini.
- Didampingi – Penggunaan gadget perlu ditemani dan dipantau.
- Dibatasi – Baik dari sisi: durasi, konten, maupun lokasi penggunaan.
Prinsip sederhana ini membantu orang tua membangun pola penggunaan gadget yang lebih sehat dan terarah.

Kapan Anak Siap Mengakses Layar?
Dalam webinar ini juga dibahas panduan penggunaan layar berdasarkan rekomendasi WHO dan American Academy of Pediatrics (AAP).
Beberapa poin penting yang disampaikan antara lain:
- Usia di bawah 18 bulan sebaiknya bebas layar, kecuali video call aktif.
- Anak usia 2–5 tahun maksimal 1 jam per hari dengan konten berkualitas.
- Anak usia 6 tahun ke atas memerlukan kesepakatan bersama dengan aturan yang jelas dan konsisten.
Namun yang paling penting bukan sekadar jumlah waktunya, melainkan kualitas aktivitas digitalnya.
Konten yang baik adalah konten yang:
- memicu kreativitas,
- mengajak berpikir kritis,
- dan membangun interaksi,
- bukan sekadar membuat anak diam menatap layar dalam “zombie mode”.
Membangun Rumah dengan Suasana Minim Layar
Bunda Vivi juga memberikan strategi praktis untuk menciptakan suasana rumah yang lebih sehat secara digital.
Salah satunya adalah dengan mengurangi gangguan visual. Gadget sebaiknya tidak selalu terlihat atau mudah dijangkau anak.
Karena semakin sering anak melihat gadget, semakin besar keinginan untuk memintanya.
Sebagai gantinya, orang tua dapat menghadirkan aktivitas produktif seperti:
- olahraga,
- membaca buku,
- menggambar,
- bermain puzzle,
- lego,
- hingga membantu pekerjaan rumah sederhana.
Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya membuat anak sibuk, tetapi juga membantu perkembangan motorik, kreativitas, kemampuan berpikir, dan keterampilan sosial anak.
Mendampingi Tanpa Drama
Salah satu tantangan terbesar orang tua adalah menghadapi drama saat gadget diminta berhenti.
Untuk itu, Bunda Vivi membagikan beberapa strategi sederhana:
- menggunakan visual timer atau alarm,
- membuat kontrak digital bersama anak,
- dan menjadikan orang tua sebagai role model.
Karena anak adalah peniru ulung.
Ketika orang tua terus memegang gadget saat bersama keluarga, anak akan sulit memahami mengapa dirinya harus dibatasi.
Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari contoh.
“Children see, children do.”
Kalimat ini terasa sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.
Anak Tidak Hanya Butuh Aturan, Tetapi Kehadiran
Menjelang akhir webinar, suasana terasa semakin hangat. Banyak ayah bunda mulai menyadari bahwa inti dari semua pembahasan hari itu sebenarnya bukan tentang gadget.
Melainkan tentang hubungan. Tentang bagaimana menjaga hati anak tetap dekat meski dunia digital terus berkembang.
Bunda Vivi Psikolog menutup materi dengan kesimpulan yang begitu kuat:
- gadget adalah teknologi yang bermanfaat sekaligus berpotensi bahaya jika aksesnya tanpa batas,
- orang tua memegang peran utama dalam mendampingi anak,
- dan resep pengasuhan di era digital adalah 3 K-Si: Kelekatan Emosi, Komunikasi, dan Konsistensi.
Di akhir sesi, ada satu pengingat sederhana yang terasa menenangkan:
“Doakan… doakan… doakan…”
Karena sekuat apa pun ikhtiar orang tua, hati anak tetap berada dalam genggaman Allah SWT.
InsyaAllah untuk materi dari narasumber kedua akan kami bagikan secara terpisah ya, Ayah Bunda.
Semoga ayah bunda senantiasa diberikan kekuatan untuk membersamai tumbuh kembang anak di era digital ini. Bukan sekadar menjadi pengontrol layar, tetapi menjadi rumah ternyaman tempat anak pulang dan bertumbuh.***