Isra’ Mi’raj Bukan Sekadar Kisah, Ini Cara Mengajarkannya ke Anak

By adminbj

Setiap tahun, umat Islam memperingati Isra’ Mi’raj. Namun, tak jarang peristiwa besar ini hanya berhenti sebagai cerita perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Anak-anak mengingatnya sebagai “kisah naik ke langit”, sementara orang dewasa mengenangnya sebagai tanggal di kalender hijriyah.

Padahal, Isra’ Mi’raj adalah peristiwa pendidikan paling agung dalam sejarah Islam—bukan hanya untuk Rasulullah ﷺ, tetapi juga untuk keluarga, terutama orang tua dalam mendidik anak.

Momen ini menjadi kesempatan berharga bagi orang tua untuk memaknai ulang Isra’ Mi’raj, lalu menurunkannya menjadi nilai yang hidup dalam keseharian anak.

Memahami Isra’ Mi’raj Secara Utuh, Bukan Sekadar Perjalanan

Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah luar biasa tentang perjalanan dalam satu malam. Di baliknya, ada pesan besar tentang ketaatan, keimanan, dan kedisiplinan spiritual.

Peristiwa ini terjadi di masa berat Rasulullah ﷺ—setelah kehilangan orang-orang tercinta dan menghadapi penolakan. Namun justru di titik terendah itulah Allah menghadiahkan peristiwa agung dan menetapkan shalat lima waktu sebagai kewajiban utama umat Islam.

Dari sini, orang tua bisa menanamkan pada anak bahwa:

  • Ujian hidup bukan tanda Allah meninggalkan kita
  • Justru dari kesulitan, Allah menguatkan hamba-Nya
  • Shalat adalah hadiah, bukan beban

Isra’ Mi’raj dan Pendidikan Karakter Anak

Bagi anak-anak, Isra’ Mi’raj bukan tentang detail langit ke berapa atau kendaraan Buraq semata. Yang jauh lebih penting adalah nilai karakter yang bisa ditanamkan sejak dini.

Beberapa nilai utama Isra’ Mi’raj untuk pendidikan anak:

  • Disiplin melalui shalat tepat waktu
  • Tanggung jawab terhadap perintah Allah
  • Kejujuran dan keimanan, meski kisahnya sulit dipahami logika
  • Ketenangan hati dalam menghadapi masalah

Ketika orang tua mengaitkan Isra’ Mi’raj dengan keseharian anak—bangun shalat Subuh, belajar tertib, dan berbuat baik—anak akan memahami bahwa Islam hadir dalam hidup, bukan hanya di cerita.

Cara Orang Tua Mengenalkan Isra’ Mi’raj Sesuai Usia Anak

Agar makna Isra’ Mi’raj sampai ke hati anak, pendekatannya perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka.

1. Gunakan Cerita, Bukan Ceramah

Anak usia PAUD dan SD lebih mudah menangkap makna lewat cerita. Sampaikan Isra’ Mi’raj seperti dongeng penuh hikmah, dengan bahasa sederhana dan penuh ekspresi.

2. Fokus pada Pesan Utama: Shalat

Tidak perlu semua detail. Tekankan bahwa dari Isra’ Mi’raj, Allah memberi hadiah shalat agar kita selalu dekat dengan-Nya.

3. Jadilah Teladan di Rumah

Anak belajar lebih kuat dari contoh. Ketika orang tua menjaga shalat, anak akan melihat bahwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar peringatan, tapi pedoman hidup.

Hal ini selaras dengan pengingat yang disampaikan Bu Ni’mah, Kepala SD Islam Bintang Juara pada sesi Pemaparan Program Semester 2 secara daring;

reminder for parents

Semoga pengingat tersebut bisa terus menguatkan Ayah Bunda untuk senantiasa menjaga keteladanan di rumah.

4. Libatkan Anak dalam Aktivitas Bermakna

Mengajak anak menyiapkan sajadah sendiri, shalat berjamaah, atau membuat gambar tentang Isra’ Mi’raj akan membuat pengalaman belajar lebih hidup.

Dari Peringatan ke Pembiasaan di Keluarga

Kesalahan umum dalam mengenalkan Isra’ Mi’raj adalah menjadikannya acara tahunan tanpa tindak lanjut. Padahal, inti Isra’ Mi’raj adalah pembiasaan—terutama pembiasaan shalat dan kedekatan dengan Allah.

Orang tua dapat memulai dari langkah kecil:

  • Membuat jadwal shalat keluarga
  • Mengajak anak berdiskusi ringan tentang “kenapa kita shalat”
  • Memberi apresiasi atas usaha anak, bukan hanya hasilnya

Dengan begitu, Isra’ Mi’raj tidak berhenti sebagai cerita, tetapi menjadi nilai yang tumbuh bersama anak.

Menghidupkan Makna Isra’ Mi’raj dalam Pendidikan Anak

Di Sekolah Islam Bintang Juara, nilai-nilai keislaman seperti Isra’ Mi’raj dipahami sebagai fondasi pembentukan karakter. Pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga tentang membangun hubungan anak dengan Allah sejak dini.

Karena anak yang mengenal shalat sebagai kebutuhan jiwa—bukan paksaan—akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tenang, disiplin, dan bertanggung jawab.

Penutup

Isra’ Mi’raj adalah momentum refleksi, bukan hanya bagi anak, tetapi juga bagi orang tua. Sudahkah kita mengenalkan shalat sebagai hadiah? Sudahkah rumah menjadi tempat belajar iman yang hangat?

Karena sejatinya, pendidikan Islam yang kuat dimulai dari rumah, dan Isra’ Mi’raj adalah pintu indah untuk menanamkan nilai itu sejak dini.*** (CM-MRT)

Leave a Comment