“Bukan tentang mendiagnosis, tapi tentang mengakomodasi.”
Kalimat tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam Workshop Pengembangan Kurikulum Inklusi 2026 yang berlangsung pada Rabu, 9 September 2026 di SMP 5 Semarang.
Di ruang workshop, pembahasan tentang pendidikan inklusi tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang berbeda dari anak ini?” atau “Apakah anak ini memiliki kondisi tertentu?”
Lebih jauh dari itu, para pendidik diajak melihat sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting:
“Apa yang bisa kita lakukan agar setiap murid dapat belajar dan berkembang dengan optimal?”
Dalam kegiatan ini, Bunda Vivi Psikolog menjadi salah satu narasumber yang berbagi wawasan mengenai bagaimana guru dapat memahami kebutuhan murid melalui deteksi dini, memberikan akomodasi dalam asesmen, hingga merancang kelas transisi yang berpusat pada potensi dan kekuatan murid.
Pendidikan Inklusi Dimulai dari Kepekaan Guru
Setiap kelas adalah ruang yang diisi oleh anak-anak dengan cerita yang berbeda.
Ada murid yang cepat memahami instruksi. Ada yang membutuhkan pengulangan. Ada yang nyaman belajar melalui aktivitas visual, sementara yang lain lebih mudah memahami sesuatu ketika langsung mempraktikkannya.
Ada pula murid yang membutuhkan dukungan lebih dalam berkomunikasi, mengelola emosi, berinteraksi dengan teman, atau membangun kemandirian.
Keragaman tersebut merupakan bagian dari realitas pembelajaran.
Karena itu, pendidikan inklusi tidak semata-mata berbicara tentang menempatkan semua anak di ruang kelas yang sama. Pendidikan inklusi juga berbicara tentang bagaimana lingkungan belajar mampu merespons kebutuhan murid yang beragam.
Di sinilah kepekaan guru menjadi penting.
Guru perlu mengamati, memahami, dan mengenali kebutuhan murid agar strategi pembelajaran yang diberikan tidak justru menjadi penghalang bagi proses belajar mereka.
Deteksi Dini: Mengenali Kebutuhan, Bukan Memberi Label
Salah satu materi yang dibahas oleh Bunda Vivi Psikolog dalam workshop adalah mengenai deteksi dini.
Dalam praktik pendidikan, proses mengenali adanya kebutuhan tertentu pada murid seharusnya tidak dimaknai sebagai upaya guru untuk mendiagnosis.
Guru bukan sedang mencari label untuk anak.
Sebaliknya, deteksi dini menjadi bagian dari upaya untuk lebih peka terhadap kebutuhan murid, sehingga sekolah dapat menentukan dukungan yang sesuai.
Perbedaan kemampuan, perilaku, respons, maupun cara belajar anak perlu dipandang sebagai informasi yang membantu guru memahami murid secara lebih utuh.
Dengan pemahaman tersebut, guru dapat melanjutkan langkah berikutnya: mencari strategi dan bentuk dukungan yang dapat membantu anak mengikuti proses pembelajaran.
Maka, alih-alih berhenti pada pertanyaan “Anak ini kenapa?”, pendidikan inklusi mengajak kita bergerak menuju pertanyaan:
“Anak ini membutuhkan dukungan seperti apa?”
Akomodasi dalam Asesmen: Memberikan Kesempatan yang Setara
Setiap anak memiliki cara dan kebutuhan belajar yang berbeda. Karena itu, proses asesmen juga perlu mempertimbangkan keberagaman tersebut.
Dalam workshop ini, para guru diajak memahami pentingnya akomodasi dalam asesmen.
Akomodasi bukan berarti memberikan kemudahan yang tidak adil atau menurunkan standar belajar seorang murid. Akomodasi lebih tepat dipahami sebagai penyesuaian yang membantu murid mendapatkan akses yang lebih sesuai untuk menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.
Sebab, hasil asesmen tidak selalu hanya berbicara tentang kemampuan anak. Cara asesmen diberikan juga dapat memengaruhi bagaimana anak menunjukkan apa yang telah dipelajarinya.
Ketika kebutuhan murid dipahami, guru memiliki kesempatan untuk memikirkan bentuk asesmen dan dukungan yang lebih tepat.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar mengetahui siapa yang paling cepat menyelesaikan soal, tetapi memastikan setiap murid mendapatkan kesempatan untuk belajar, menunjukkan potensi, dan berkembang.
Merancang Kelas Transisi yang Berpusat pada Potensi
Pembahasan kemudian bergerak pada hal yang tidak kalah penting: kelas transisi.
Perubahan lingkungan, rutinitas, tuntutan belajar, maupun hubungan sosial dapat menjadi pengalaman yang membutuhkan penyesuaian bagi murid.
Karena itu, kelas transisi perlu dirancang bukan hanya untuk membantu anak “mengikuti aturan baru”, tetapi juga untuk membantu mereka memahami lingkungan, mengenali dirinya, dan secara bertahap membangun kemandirian.
Dalam workshop, guru diajak melihat murid melalui potensi dan kekuatannya.
Setiap anak memiliki sesuatu yang dapat dikembangkan. Ketika kekuatan tersebut dikenali, guru dapat menggunakannya sebagai pintu masuk untuk membangun kemampuan lain yang masih perlu dikembangkan.
Pendekatan ini mengubah cara pandang terhadap murid.
- Anak bukan sekadar kumpulan kesulitan yang perlu diperbaiki.
- Anak adalah individu dengan potensi, kekuatan, kebutuhan, dan proses perkembangan yang unik.
Mengembangkan Kemandirian Murid
Salah satu tujuan penting dari pendampingan dalam pendidikan inklusi adalah membantu murid menjadi semakin mandiri.
Kemandirian tidak selalu berarti mampu melakukan semuanya tanpa bantuan.
Pada prosesnya, kemandirian dapat tumbuh ketika anak mendapatkan dukungan yang tepat, kemudian secara bertahap memiliki kesempatan untuk mencoba, mengambil keputusan, menyelesaikan tugas, dan memahami tanggung jawabnya.
Karena itu, dukungan guru idealnya bukan membuat anak selalu bergantung, tetapi membantu anak memiliki kemampuan untuk melakukan lebih banyak hal secara mandiri dari waktu ke waktu.
Inilah mengapa memahami kebutuhan murid menjadi sangat penting.
Dukungan yang tepat dapat menjadi jembatan bagi anak untuk berkembang.
Dari Workshop Menuju Ekosistem Belajar yang Lebih Inklusif
Workshop Pengembangan Kurikulum Inklusi 2026 menjadi ruang bagi para pendidik untuk kembali melihat bahwa keberagaman murid bukanlah hambatan dalam pendidikan.
Justru, keberagaman menjadi alasan mengapa guru perlu terus belajar.
- Belajar untuk lebih peka.
- Belajar mengamati tanpa buru-buru memberi label.
- Belajar memahami kebutuhan.
- Belajar memberikan akomodasi.
- Belajar merancang pembelajaran yang lebih fleksibel.
- Dan belajar melihat kekuatan setiap anak.
Sebab, menciptakan ekosistem belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan selalu berawal dari kepekaan kita terhadap kebutuhan murid yang beragam.
Melalui kegiatan ini, semangat tersebut kembali diteguhkan: pendidikan inklusi bukan tentang mendiagnosis, tetapi tentang mengakomodasi.
Bukan tentang mencari apa yang kurang dari seorang anak, melainkan menemukan apa yang dapat dilakukan agar ia dapat berkembang.
Semoga langkah para guru dalam terus belajar dan bertumbuh menjadi langkah kecil yang menghadirkan dampak besar bagi ruang-ruang belajar di Semarang.
Karena ketika guru melihat setiap anak dengan lebih utuh, semakin besar pula kesempatan bagi setiap anak untuk menemukan bahwa dirinya adalah bintang yang memiliki kekuatan untuk berkembang dan menjadi juara.*** (CM-MRT)