Menjadi guru sering kali dibayangkan sebagai sebuah peran yang begitu mulia: datang ke sekolah, menyambut anak-anak, mengajar di kelas, mendampingi proses belajar, kemudian pulang setelah semua tugas selesai.
Namun, benarkah tugas guru hanya sebatas mengajar?
Di balik satu jam pembelajaran di kelas, ada begitu banyak pekerjaan yang perlu disiapkan. Guru perlu merancang pembelajaran, melakukan asesmen, menyelesaikan administrasi, berkomunikasi dengan orang tua, mengikuti berbagai kegiatan sekolah, berkolaborasi dengan rekan kerja, dan tentu saja terus belajar untuk meningkatkan kompetensinya.
Gambaran ideal tentang tugas guru tersebut menjadi salah satu bagian yang dibahas oleh Bunda Vivi Psikolog dalam kegiatan KKG Gugus Srikandi yang berlangsung di SD Islam Terpadu Hidayatullah pada Rabu, 2 September 2026.
Mengangkat tema “Guru Berdaya, Pendidikan Bermakna: Menjaga Mental yang Sehat dan Rasa Sejahtera dengan Berjuang di Dunia Pendidikan”, kegiatan ini mengajak para guru untuk melihat kembali satu hal yang sering kali terlupakan dalam menjalankan profesi: kondisi diri sendiri.
Sebab, sebelum menghadirkan pendidikan yang bermakna bagi peserta didik, guru juga perlu memiliki ruang untuk menjaga dirinya agar tetap berdaya.
Ketika Tugas Guru Tidak Hanya Mengajar
Setiap hari, guru datang dengan tanggung jawab yang beragam.
Ada materi yang harus dipersiapkan. Ada tugas administrasi yang harus diselesaikan. Ada anak yang membutuhkan perhatian lebih. Ada komunikasi yang perlu dibangun dengan orang tua. Ada target pembelajaran yang harus dicapai.
Semua merupakan bagian dari perjuangan di dunia pendidikan.
Namun, di tengah banyaknya tanggung jawab tersebut, guru juga merupakan manusia yang memiliki emosi, kebutuhan, keterbatasan, harapan, dan tantangan pribadi.
Karena itu, menjaga kesehatan mental bukan berarti guru harus terbebas dari seluruh persoalan.
Justru, menjadi guru yang berdaya berarti memiliki kesadaran untuk mengenali kondisi diri, menyadari ketika menghadapi masalah, dan memiliki kemauan untuk terus belajar serta mencari cara agar dapat menjalankan kehidupan dan pekerjaannya dengan lebih baik.
Mental Health dan Psychological Well-Being, Apa Bedanya?
Dalam kegiatan KKG Gugus Srikandi, pembahasan kemudian mengarah pada dua istilah yang sering dianggap sama, yaitu mental health dan psychological well-being.
Mental health dalam pembahasan ini digambarkan sebagai kondisi “bebas dari gangguan”. Namun, kesehatan mental tidak berhenti pada ketiadaan gangguan.
Pondasi diri yang sehat juga berkaitan dengan kemampuan individu untuk memahami potensinya, mengelola tekanan, serta tetap dapat menjalankan aktivitas secara produktif.
Sementara itu, psychological well-being memiliki cakupan yang lebih luas.
Kesejahteraan psikologis tidak hanya berbicara tentang terbebas dari masalah atau gangguan. Lebih jauh, psychological well-being mengarah pada bagaimana seseorang dapat berfungsi secara optimal, menemukan potensi dirinya, dan terus mengembangkan potensi tersebut.
Dengan kata lain, seseorang dapat menghadapi masalah dan tetap memiliki psychological well-being ketika ia mampu menyadari masalah tersebut, menerima bahwa ada hal yang perlu diperbaiki, dan memiliki kemauan untuk belajar serta bertumbuh.
Di sinilah konsep “guru berdaya” menjadi semakin bermakna.
Guru berdaya bukan guru yang tidak pernah lelah. Bukan pula guru yang selalu mampu menyelesaikan semuanya dengan sempurna.
Guru berdaya adalah guru yang mampu mengenali dirinya dan terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik.
Enam Dimensi Psychological Well-Being Guru
Pembahasan mengenai kesejahteraan psikologis semakin menarik ketika melihat enam dimensi psychological well-being dalam model yang dikembangkan oleh psikolog Carol Ryff.
Keenam dimensi tersebut dapat menjadi ruang refleksi bagi guru dalam melihat kondisi dirinya secara lebih utuh.
1. Penerimaan Diri
Menjadi guru berarti menjalani proses yang panjang.
Ada keberhasilan, ada kesalahan, ada pengalaman menyenangkan, dan ada pula situasi yang tidak sesuai harapan.
Penerimaan diri membantu seseorang melihat dirinya secara lebih utuh, termasuk memahami kelebihan dan keterbatasannya.
Guru tidak harus menjadi sempurna untuk dapat memberikan pendidikan yang bermakna.
Yang penting adalah memiliki kesadaran terhadap diri sendiri dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.
2. Hubungan Positif dengan Orang Lain
Guru tidak bekerja sendirian.
Ada rekan guru, tenaga kependidikan, pimpinan sekolah, orang tua, dan tentu saja peserta didik.
Hubungan yang positif dengan orang lain dapat menjadi bagian penting dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan.
Memiliki ruang untuk berbagi, berdiskusi, meminta bantuan, dan saling memberikan dukungan dapat membuat perjalanan sebagai guru terasa tidak harus dijalani sendirian.
3. Otonomi
Guru juga membutuhkan kemampuan untuk memiliki kendali dan menentukan sikap dalam menjalankan perannya.
Otonomi berkaitan dengan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak berdasarkan pertimbangan yang dimilikinya, bukan sekadar mengikuti tekanan dari lingkungan.
Dalam praktik pendidikan, guru perlu memiliki ruang untuk mengembangkan cara mengajar, mengambil keputusan yang tepat, dan menjalankan tanggung jawab profesionalnya dengan kesadaran.
4. Penguasaan Lingkungan
Sekolah memiliki dinamika yang tidak selalu dapat diprediksi.
Ada perubahan kebijakan, karakter peserta didik yang beragam, tuntutan pekerjaan, hingga situasi yang membutuhkan penyesuaian.
Penguasaan lingkungan berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengelola dan merespons lingkungan tempat ia berada.
Bukan berarti guru harus mampu mengendalikan semua hal.
Justru, guru belajar mengenali apa yang dapat dikendalikan, apa yang perlu dihadapi, dan kapan membutuhkan dukungan dari orang lain.
5. Tujuan Hidup
Di tengah rutinitas mengajar dan administrasi, penting bagi guru untuk kembali mengingat: “Mengapa saya memilih menjadi guru?”
Memiliki tujuan hidup membantu seseorang melihat makna di balik aktivitas yang dijalani setiap hari.
Ketika pekerjaan tidak hanya dipandang sebagai daftar tugas, tetapi juga sebagai bagian dari tujuan dan nilai yang diyakini, perjuangan dalam dunia pendidikan dapat memiliki makna yang lebih dalam.
Setiap pembelajaran yang dirancang, setiap anak yang didampingi, dan setiap proses yang dilakukan dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju tujuan tersebut.
6. Pertumbuhan Pribadi
Menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Dunia pendidikan terus berkembang. Anak-anak berubah. Tantangan pembelajaran juga berubah.
Karena itu, pertumbuhan pribadi menjadi salah satu bagian penting dari psychological well-being.
Guru yang berdaya bukan guru yang merasa sudah mengetahui semuanya. Sebaliknya, ia memiliki keberanian untuk mengatakan, “Saya masih perlu belajar.”
Menyadari adanya masalah, menerima masukan, mencari pengetahuan baru, dan mencoba cara yang lebih baik merupakan bagian dari proses bertumbuh.
Guru yang Sejahtera, Pendidikan yang Lebih Bermakna
Pembahasan dalam KKG Gugus Srikandi menjadi sebuah pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang apa yang diberikan guru kepada murid.
Pendidikan juga berbicara tentang bagaimana guru sebagai manusia terus bertumbuh dalam menjalankan perannya.
Menjaga kesehatan mental dan psychological well-being bukan berarti menghindari seluruh tekanan yang ada dalam dunia pendidikan. Tekanan, tantangan, dan masalah merupakan bagian dari perjalanan.
Namun, guru dapat belajar untuk mengenali dirinya, memahami potensinya, mengelola tekanan, membangun hubungan yang sehat, menemukan makna dalam pekerjaannya, serta terus mengembangkan diri.
Enam dimensi psychological well-being dapat menjadi cermin sederhana untuk melakukan refleksi:
- Apakah saya sudah menerima diri saya?
- Apakah saya memiliki hubungan yang positif dengan orang-orang di sekitar saya?
- Apakah saya memiliki ruang untuk menentukan pilihan?
- Apakah saya mampu menghadapi lingkungan dan berbagai tuntutannya?
- Apakah saya masih menemukan makna dalam pekerjaan saya?
- Dan apakah saya terus bertumbuh?
Tidak harus semua jawabannya “sudah”.
Sebab menjadi guru yang berdaya bukan tentang mencapai kondisi sempurna. Ia adalah perjalanan untuk terus belajar.
Berjuang dengan Sehat, Bertumbuh dengan Makna melalui KKG Gugus Srikandi
Tema “Guru Berdaya, Pendidikan Bermakna” pada KKG Gugus Srikandi menjadi pengingat bahwa guru juga membutuhkan perhatian, ruang refleksi, dan kesempatan untuk bertumbuh.
Ketika guru memahami dirinya, mengenali kebutuhannya, dan berani mencari bantuan atau belajar ketika menghadapi kesulitan, ia sedang menjaga fondasi penting dalam perjalanan pendidikannya.
Sebab guru tidak hanya mengajarkan ilmu.
Guru juga menghadirkan teladan tentang bagaimana manusia belajar, menghadapi tantangan, memperbaiki kesalahan, dan terus bertumbuh.
Maka, menjadi guru yang berdaya bukan berarti harus selalu kuat sendirian.
Guru berdaya adalah guru yang tahu kapan harus berjuang, kapan perlu belajar, kapan perlu beristirahat, dan kapan perlu meminta dukungan.
Dari guru yang terus bertumbuh, lahirlah ruang belajar yang lebih bermakna.
Dan dari pendidikan yang bermakna, semoga tumbuh generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga mampu mengenali dirinya, menghadapi kehidupan, dan memberikan manfaat bagi sesama.***(CM-MRT)