Psychological Well Being Guru SD dalam Pendidikan Inklusi: Ruang Berbagi melalui FGD

By adminbj

Menjadi seorang guru bukan hanya tentang menyampaikan materi pembelajaran di depan kelas. Di balik setiap proses belajar, ada guru yang setiap hari berusaha memahami karakter anak, menghadapi berbagai kebutuhan belajar, membangun komunikasi dengan orang tua, sekaligus memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

Dalam konteks pendidikan inklusi, tantangan tersebut dapat menjadi semakin beragam. Guru dituntut untuk mampu memberikan pendampingan kepada anak dengan karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Namun, di tengah berbagai tuntutan tersebut, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan: bagaimana kondisi psikologis guru itu sendiri?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Forum Group Discussion (FGD) tentang Psychological Well Being Guru SD dalam Pendidikan Inklusi yang diselenggarakan oleh Qualifa bekerja sama dengan Sekolah Islam Bintang Juara.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hotel Kinaya pada Selasa, 18 Agustus 2026, dan diikuti oleh guru-guru SD di Kecamatan Tugu.

Berawal dari Kuesioner, Berlanjut Menjadi Ruang Berbagi

FGD ini merupakan bagian dari penelitian yang dilakukan oleh Bunda Vivi Psikolog. Sebelum sampai pada tahap diskusi, para guru terlebih dahulu mengikuti proses pengisian kuesioner.

Kuesioner menjadi langkah awal untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi yang dialami oleh guru. Setelah itu, proses dilanjutkan melalui FGD agar berbagai pengalaman dan pandangan guru dapat dibicarakan secara lebih terbuka.

Jika kuesioner memberikan ruang bagi guru untuk menyampaikan respons secara personal, FGD menghadirkan kesempatan untuk bercerita, mendengarkan, dan saling memahami pengalaman satu sama lain.

Di sinilah diskusi menjadi lebih hidup.

Para guru tidak hanya hadir sebagai peserta penelitian, tetapi juga sebagai individu yang memiliki pengalaman, tantangan, harapan, dan berbagai hal yang selama ini mungkin belum memiliki ruang untuk disampaikan.

Ketika Guru Membutuhkan Ruang untuk Didengarkan

Sering kali, ketika berbicara mengenai pendidikan inklusi, perhatian utama tertuju pada kebutuhan peserta didik.

  • Bagaimana pembelajaran dapat disesuaikan?
  • Bagaimana anak dapat merasa diterima?
  • Bagaimana guru dapat memberikan pendampingan yang tepat?

Semua pertanyaan tersebut memang penting.

Namun, ada pertanyaan lain yang juga perlu hadir:

“Bagaimana dengan guru yang menjalankan semua proses tersebut?”

Guru juga memiliki perasaan. Guru juga dapat merasa lelah, khawatir, bingung, membutuhkan dukungan, bahkan membutuhkan tempat untuk menyampaikan berbagai uneg-uneg yang muncul dalam menjalankan perannya.

Karena itu, membicarakan psychological well-being guru menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang sehat.

Melalui FGD ini, para guru mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman dan uneg-uneg yang mereka rasakan. Bukan sekadar mencari jawaban dalam waktu singkat, tetapi menghadirkan ruang untuk saling mendengarkan dan memahami.

Bagi para peserta, kesempatan tersebut terasa berarti.

Guru-guru merasa senang karena berbagai uneg-uneg yang selama ini dirasakan dapat tertampung melalui kegiatan ini. Ada rasa lega ketika pengalaman tidak hanya disimpan sendiri, tetapi dapat dibicarakan bersama dalam ruang yang aman dan konstruktif.

Psychological Well Being Guru, Mengapa Penting?

Psychological well-being atau kesejahteraan psikologis berkaitan dengan bagaimana seseorang mampu menjalani kehidupan secara positif, mengenali dirinya, membangun hubungan yang baik dengan orang lain, serta menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya.

Bagi seorang guru, kondisi psikologis yang baik dapat menjadi salah satu fondasi dalam menjalankan peran pendidik.

Terlebih dalam pendidikan inklusi, guru berhadapan dengan kebutuhan peserta didik yang beragam. Guru perlu memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi, mendapatkan dukungan, sekaligus merefleksikan pengalaman mereka dalam proses mendampingi anak.

Sebab, guru yang juga mendapatkan dukungan akan memiliki ruang yang lebih sehat untuk memberikan dukungan kepada peserta didiknya.

Perhatian terhadap kesejahteraan psikologis guru bukan berarti mengurangi tuntutan profesional seorang pendidik. Justru sebaliknya, hal ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih berkelanjutan.

Pendidikan yang baik tidak hanya bertanya apakah anak dapat tumbuh dengan baik, tetapi juga memastikan orang-orang yang mendampingi pertumbuhan tersebut memiliki ruang untuk bertumbuh.

FGD sebagai Awal, Bukan Akhir

Salah satu harapan yang muncul dari kegiatan ini adalah agar FGD tidak berhenti sebagai satu kegiatan saja.

Para guru berharap adanya kelanjutan dari proses yang telah dimulai, sehingga ruang untuk berdiskusi mengenai psychological well-being, tantangan guru, dan pendidikan inklusi dapat terus dibangun.

Harapan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan guru bukan hanya tentang mendapatkan materi atau pelatihan satu arah. Terkadang, guru juga membutuhkan ruang untuk didengarkan, berefleksi, dan menemukan dukungan bersama.

FGD dapat menjadi salah satu langkah untuk membuka percakapan tersebut.

Dari sebuah kuesioner, kemudian berkembang menjadi diskusi. Dari diskusi, muncul berbagai cerita dan pengalaman. Dan dari pengalaman tersebut, diharapkan dapat lahir pemahaman serta langkah-langkah yang lebih baik untuk mendukung guru dalam menjalankan perannya.

Membangun Pendidikan Inklusi Dimulai dari Ekosistem yang Peduli

Pendidikan inklusi membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan dan metode pembelajaran. Ia membutuhkan ekosistem yang mampu melihat setiap individu sebagai manusia yang memiliki kebutuhan untuk diterima, dipahami, dan didukung.

Peserta didik membutuhkan guru yang hadir untuk mendampingi mereka. Dan guru juga membutuhkan lingkungan yang hadir untuk mendampingi mereka.

Melalui kolaborasi Qualifa dan Sekolah Islam Bintang Juara, FGD tentang Psychological Well Being Guru SD dalam Pendidikan Inklusi menjadi salah satu langkah untuk menghadirkan ruang tersebut.

Semoga percakapan yang dimulai di Hotel Kinaya pada Selasa, 18 Agustus 2026, tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Semoga ia menjadi awal dari percakapan-percakapan berikutnya, penelitian yang semakin mendalam, serta upaya nyata untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang semakin ramah, inklusif, dan peduli terhadap kesejahteraan para pendidiknya.

Karena pada akhirnya, mendukung guru berarti turut menjaga kualitas pendidikan.

Dan ketika guru memiliki ruang untuk didengar dan bertumbuh, semakin banyak ruang pula yang dapat mereka hadirkan bagi anak-anak untuk tumbuh menjadi versi terbaik dirinya.*** (CM-MRT)

Leave a Comment