Guru Bercerita: Bunda Vivi Psikolog, Tentang Filosofi Sekolah Islam Bintang Juara

By adminbj

Sekolah Islam Bintang Juara tidak lahir hanya dari sebuah gagasan tentang sekolah, tetapi dari kegelisahan dan keyakinan tentang bagaimana seharusnya anak tumbuh dan belajar.

Sebagai seorang psikolog sekaligus pendiri Sekolah Islam Bintang Juara, Bunda Vivi Psikolog melihat bahwa setiap anak memiliki potensi, kebutuhan perkembangan, karakter, serta proses tumbuh yang berbeda.

Pendidikan pun tidak cukup jika hanya berorientasi pada nilai akademis, tetapi perlu memandang anak secara utuh—mulai dari aspek spiritual, sosial-emosional, kognitif, hingga kemandirian dan akhlaknya.

Dalam episode Guru Bercerita kali ini, Bunda Vivi Psikolog berbagi cerita tentang filosofi, nilai, serta harapan di balik pendidikan di Sekolah Islam Bintang Juara.

Profil Singkat Bunda Vivi Psikolog

Bunda Vivi Psikolog memiliki nama lengkap Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Beliau adalah seorang Psikolog Pendidikan, Ketua Yayasan Dewi Sartika sekaligus pendiri dari Sekolah Islam Bintang Juara yang berlokasi di kawasan Sukorejo, Gunungpati, Kota Semarang, pemilik layanan psikologi Qualifa dan dosen Pembelajaran Jarak Jauh Psikologi UICI (Universitas Insan Cita Indonesia).

Bunda Vivi Psikolog merupakan ibu dari empat orang anak kelahiran Bulan November. Beliau aktif mengisi kelas inspirasi untuk anak, penyuluhan, serta pelatihan parenting bagi guru dan orang tua. Materi seputar parenting yang sering beliau bagikan, di antaranya; penanganan anak dengan gangguan emosi, perilaku, serta pemusatan perhatian.

Tak hanya itu, beliau juga sering membagikan kegiatan olahraga dan kebiasaan makan sehatnya untuk menginspirasi para guru Sekolah Islam Bintang Juara dan khalayak umum.

galeri kegiatan Bunda Vivi Psikolog bersama keluarga dan ragam aktivitas

Bunda Vivi Psikolog Bercerita

Tim media Sekolah Islam Bintang Juara telah mengajukan beberapa pertanyaan kepada Bunda Vivi Psikolog yang mungkin juga menjadi tanda tanya dalam benak ayah bunda. Yuk, mari berkenalan lebih dekat dengan Sekolah Islam Bintang Juara melalui founder-nya secara langsung!

1. Apa yang melatarbelakangi lahirnya Sekolah Islam Bintang Juara?

PAUD Islam Bintang Juara lahir pada tahun 2013, berawal dari adanya cita-cita sebuah Lembaga Pendidikan yang memahami kebutuhan perkembangan anak usia dini secara menyeluruh sehingga dapat membantu orang tua memberikan berbagai kegiatan main atau stimulasi yang menyeluruh dan berkelanjutan agar dapat mengoptimalkan perkembangan anak mereka.

Untuk jenjang SD sebagai program Pendidikan lanjutan PAUD, saya juga meyakini bahwa program pendidikan PAUD yang sudah meletakkan pondasi perlu dilanjutkan agar bangunan pribadi anak semakin kokoh dalam kurun waktu 6 tahun pendidikan jenjang SD.

Anak SD tidak cukup hanya belajar materi pelajaran atau akademis saja, mereka juga harus mendapatkan program pendidikan yang mengutamakan pendidikan karakter di dalam Islam kita menyebutnya pendidikan adab dan akhlakul karimah.

Agar saat anak belajar beragam ilmu pengetahuan maka ilmu tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari saat mereka berinteraksi dengan keluarga di rumah maupun di masyarakat.  Ilmu mereka tidak hanya sebatas teori namun justru dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, menyelesaikan beragam masalah di rumah maupun lingkungan sosial yang lebih luas.

Sebagai seorang psikolog, saya juga banyak bertemu dengan anak-anak SD yang kurang dipahami kebutuhan perkembangannya oleh orang tua maupun guru. Mereka hanya dituntut untuk belajar dengan menghafal, mendengarkan dan mencatat, mengerjakan soal atau PR, ikut lomba ini dan itu.

Mereka jarang diajak belajar dengan beragam strategi dan media yang lebih menarik dan seru, jarang diajak ngobrol dan didengarkan perasaan mereka, masalah yang mereka hadapi di sekolah, jarang ditanya kesukaan atau hobi mereka apa sehingga belajar menjadi terasa membosakan dan membuat capek.

2. Kegelisahan apa yang ingin dijawab melalui sekolah ini?

Saat itu, sekitar tahun 2013 – 2017, saya melihat cukup banyak anak yang tumbuh dengan tekanan untuk menjadi “sempurna”, tetapi kurang diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Banyak orang tua juga merasa pendidikan hanya tentang nilai atau angka yang tercantum di rapor, rangking di kelas, padahal masa SD tetaplah melanjutkan pondasi tumbuh kembang anak, terutama penguatan akhlak dan adab, kemandirian, tanggung jawab, kedisiplinan serta kemampuan mengungkapkan ide menjadi sebuah karya yang bermanfaat.

Kami ingin setiap anak pulang dari sekolah bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga membawa kebahagiaan, rasa percaya diri, dan tentunya akhlak yang baik.

3. Mengapa memilih nama Bintang Juara?

Karena kami yakin setiap anak adalah memiliki beragam potensi atau Bintang yang akan bersinar di saat dan tempat. Bintang memiliki cahaya atau sinar yang berbeda-beda namun semuanya tetap indah sesuai ciri khasnya masing-masing.

Kata Juara bukan berarti selalu menang atau menjadi nomor satu, membawa piala kejuaraan lomba, melainkan mampu memenangkan proses perjuangan, melawan rasa takut mencoba, takut kalah, rasa malas, bosan, merasa tidak mampu, serta berani jujur dan bertanya saat tidak tau, saat merasa kesulitan, mau berusaha untuk bangkit dan mencoba lagi ketika gagal, mampu memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

4. Apa arti “Juara” menurut Bunda Vivi Psikolog?

Menurut saya, juara bukanlah tentang mengalahkan orang lain.

Seperti yang sudah saya sejelaskan di poin sebelumnya,

  • Juara adalah anak yang berani mencoba, dan terus menerus berusaha saat gagal.
  • Juara adalah anak yang mandiri, bertanggung jawab dan disiplin.
  • Juara adalah anak yang mencintai Allah dan Rasulullah, menghormati orang tua, menyayangi sesama, dan terus belajar sepanjang hayat.

Karena itu kami selalu yakin bahwa “Setiap Anak Adalah Bintang dan Berhak menjadi Juara”

5. Mengapa pendidikan Islam harus membentuk karakter sekaligus kompetensi?

Karena dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pintar, tetapi juga orang yang berakhlak. Ilmu tanpa akhlak bisa disalahgunakan. Sebaliknya, akhlak yang baik akan menjadikan ilmu membawa keberkahan dan kebermanfaatan.

Anak perlu memiliki kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, literasi digital, kemampuan memecahkan masalah dan berinovasi. Namun semua itu harus dibingkai oleh kejujuran, tanggung jawab, amanah, kasih sayang, serta kesadaran bahwa setiap ilmu adalah amanah dari Allah.

6. Apa yang membedakan Sekolah Islam Bintang Juara dari sekolah lain?

Yang membedakan bukan hanya programnya, namun lebih dalam lagi terkait filosofi atau cara pandang yang mencakup tiga pilar pendidikan di Bintang Juara (Religiusitas, Perkembangan Anak, Sinergisitas).  

Karena itu pembelajaran disusun dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak di setiap tahapan usianya, memperhatikan beragam potensi kecerdasan anak yang perlu distimulasi secara menyeluruh.

Kami mengintegrasikan pendidikan Islam, psikologi perkembangan, pembelajaran aktif, pendidikan karakter, penguatan life skills, serta kolaborasi yang erat dengan orang tua.

Guru kami tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pendamping tumbuh kembang anak.

galeri kegiatan Bunda Vivi Psikolog bersama siswa Sekolah Islam Bintang Juara

7. Nilai Islam apa yang paling ingin diwariskan kepada setiap murid?

Jika harus memilih satu, saya ingin setiap anak memiliki cinta dan senantiasa terhubung pada Sang Pencipta, Allah SWT. Karena ketika seorang anak mencintai Allah, maka ia akan belajar mencintai Al-Qur’an, Rasulullah, menghormati orang tua, menyayangi sesama, menjaga amanah, berlaku jujur, terus semangat belajar dan menebar kebermanfaatan.

8. Momen paling berkesan sejak sekolah ini berdiri?

Ada banyak momen yang mengharukan.

Namun yang paling membekas adalah ketika melihat anak yang awalnya sulit berinteraksi, atau kurang percaya diri dengan kemampuannya, kemudian perlahan berani mencoba, berani tampil di depan umum presentasi hasil karyanya, berani memimpin doa, mampu membaca Al-Qur’an, atau datang kepada gurunya sambil berkata, “Bu Guru, ternyata aku bisa lho, sekarang aku sudah berani bicara di depan teman-teman dan bapak ibu guru.”

Bagi saya, keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika anak mendapat piala, tetapi ketika anak menemukan keyakinan bahwa dirinya mampu setelah terus menerus berusaha.

Itulah hadiah terbesar bagi seorang pendidik.

9. Seperti apa harapan Ibu terhadap lulusan Sekolah Islam Bintang Juara?

Saya berharap mereka menjadi generasi penerus yang mencintai Allah SWT, berakhlak mulia, sehat fisik dan mental, gemar belajar, mandiri, peduli kepada sesama, serta siap menghadapi tantangan perubahan zaman.

Semoga mereka menjadi pemimpin yang berilmu dan cerdas (fathanah), dapat dipercaya (amanah), jujur (shiddiq), menyampaikan dan menebar manfaat di mana pun mereka berada (tabligh).

10. Apa pesan untuk Ayah Bunda yang sedang membersamai tumbuh kembang anak?

Apresiasi setiap kemauan anak untuk mencoba dan berusaha bangkit saat gagal atau melakukan kesalahan. Dampingi dengan tenang, fokus dan konsisten setiap proses mereka bertumbuh dan berkembang.

Mari kita menjadi tim pendukung  anak yang saling menguatkan dan mendoakan. Karena pendidikan terbaik selalu lahir dari kolaborasi antara rumah dan sekolah.

11. Jika harus merangkum Sekolah Islam Bintang Juara dalam satu kalimat, apa kalimat tersebut?

Setiap Anak Adalah Bintang dan Berhak Menjadi Juara

Cerita Bunda Vivi Psikolog menunjukkan bahwa di balik nama Sekolah Islam Bintang Juara, ada sebuah keyakinan bahwa setiap anak memiliki cahaya dan potensi yang berbeda. Menjadi “juara” pun tidak selalu berarti menjadi yang pertama atau membawa pulang piala, tetapi tentang keberanian untuk mencoba, kemauan untuk terus belajar, kemampuan untuk bangkit setelah gagal, serta tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak dan bermanfaat.

Melalui perpaduan pendidikan Islam, psikologi perkembangan anak, pembelajaran aktif, pendidikan karakter, life skills, dan kolaborasi bersama orang tua, Sekolah Islam Bintang Juara berupaya menjadi rumah kedua bagi anak untuk tumbuh dan berkembang secara utuh.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang seberapa banyak yang anak ketahui, tetapi juga tentang siapa dirinya, bagaimana ia menggunakan ilmunya, dan seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan bagi orang lain.*** (CM-MRT)

Leave a Comment