Jangan Salah Lagi! Begini Penulisan SWT dan SAW yang Benar

By adminbj

Dalam tulisan keislaman, kita tentu sering menemukan singkatan seperti SWT dan SAW. Singkatan tersebut sangat akrab digunakan ketika menulis nama Allah dan Nabi Muhammad. Namun, tahukah Ayah Bunda dan anak-anak bahwa penulisan singkatan tersebut juga memiliki kaidah dalam Bahasa Indonesia?

Bentuk seperti “Allah SWT” dan “Nabi Muhammad SAW” memang sangat umum dijumpai dalam berbagai tulisan. Akan tetapi, jika mengikuti kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang dirujuk dalam Ejaan Bahasa Indonesia (EYD), bentuk penulisannya memiliki aturan tersendiri. Detik.com, misalnya, menjelaskan bahwa EYD Edisi V mengatur penggunaan huruf kapital dalam penulisan nama agama, kitab suci, Tuhan, termasuk sebutan, kata ganti, dan singkatan nama Tuhan.

Lalu, bagaimana penulisan SWT dan SAW yang benar? Mari kita pelajari bersama!

Apa Arti SWT?

SWT merupakan singkatan dari frasa Arab Subhanahu wa ta’ala, yang bermakna “Mahasuci Dia dan Mahatinggi”. Singkatan ini digunakan setelah menyebut nama Allah sebagai bentuk penghormatan kepada Allah.

Dalam penulisan Bahasa Indonesia, bentuk yang sesuai dengan kaidah yang dirujuk adalah Allah Swt., bukan Allah SWT. Huruf pertama ditulis kapital, sedangkan huruf berikutnya menggunakan huruf kecil dan diakhiri tanda titik.

Contohnya:

  • Allah Swt. menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya.
  • Kita senantiasa bersyukur kepada Allah Swt.
  • Semoga Allah Swt. memberikan kemudahan dalam setiap urusan.

Jadi, jika selama ini kita terbiasa melihat bentuk Allah SWT, perlu diketahui bahwa dalam penulisan yang mengikuti kaidah Bahasa Indonesia, bentuk yang digunakan adalah Allah Swt.

Lalu, Bagaimana Penulisan SAW?

Berikutnya adalah SAW, singkatan yang digunakan setelah nama Nabi Muhammad. SAW berasal dari ungkapan Arab shallallahu ‘alaihi wasallam, yang merupakan bentuk penghormatan dan doa bagi Rasulullah.

Dalam tulisan sehari-hari, bentuk Nabi Muhammad SAW sangat sering digunakan. Namun, berdasarkan penjelasan mengenai kaidah penulisan yang dirujuk dari EYD dan penggunaan dalam KBBI, bentuk singkatannya ditulis dengan huruf kecil dan diakhiri tanda titik, yaitu saw.

Contohnya:

  • Nabi Muhammad saw. adalah teladan bagi umat Islam.
  • Kita dianjurkan untuk berselawat kepada Nabi Muhammad saw.
  • Kisah perjuangan Rasulullah saw. mengajarkan banyak nilai kebaikan.

Dengan demikian, bentuk Nabi Muhammad saw. lebih sesuai jika kita ingin mengikuti kaidah penulisan Bahasa Indonesia tersebut.

penulisan Swt. dan saw. sesuai EBI

Bagaimana dengan A.S. dan R.A.?

Selain SWT dan SAW, ada beberapa singkatan keagamaan lain yang juga sering digunakan, seperti AS dan RA.

AS merupakan singkatan dari Alaihis Salam, yang digunakan setelah menyebut nama nabi selain Nabi Muhammad. Sementara itu, RA merupakan singkatan dari Radhiyallahu Anhu, yang digunakan setelah menyebut nama sahabat Nabi Muhammad laki-laki. Untuk sahabat perempuan, digunakan bentuk Radhiyallahu Anha.

Dalam penulisan AS yang mengikuti bentuk yang dijelaskan dalam sumber tersebut, singkatan yang tepat ditulis a.s.

Sementara untuk RA sendiri, MinBin cek langsung di website KBBI belum menemukan singkatan yang sesuai. Namun singkatan yang disarankan adalah ra., untuk membedakan dengan RA atau R.A. yang bermakna Raden Ajeng.

Contohnya:

  • Nabi Ibrahim a.s.
  • Nabi Musa a.s.
  • Abu Bakar ra.
  • Umar bin Khattab ra.

Dengan memahami bentuk-bentuk tersebut, kita tidak hanya belajar tentang istilah keagamaan, tetapi juga belajar menggunakan Bahasa Indonesia secara lebih cermat.

Mengapa Penulisan yang Benar Itu Penting?

Mungkin muncul pertanyaan, “Bukankah maksudnya tetap sama?”

Secara makna, penggunaan singkatan tersebut memang berkaitan dengan ungkapan penghormatan dalam tradisi Islam. Namun, dalam konteks penulisan Bahasa Indonesia, penggunaan huruf kapital, huruf kecil, dan tanda baca tetap perlu diperhatikan.

Bahasa yang baik membantu sebuah informasi tersampaikan dengan jelas. Hal ini menjadi semakin penting ketika tulisan ditujukan untuk pendidikan, buku pelajaran, artikel website, materi sekolah, maupun media sosial.

Bagi anak-anak, kebiasaan memperhatikan cara menulis juga merupakan bagian dari proses belajar. Anak tidak hanya diajak mengetahui apa yang ditulis, tetapi juga bagaimana menuliskannya dengan tepat.

Di sinilah literasi menjadi penting. Ketika belajar agama berjalan bersama dengan kemampuan berbahasa, anak dapat memahami bahwa nilai-nilai kebaikan juga dapat diterapkan melalui hal-hal sederhana, termasuk ketelitian dalam menulis.

Ringkasan Penulisan SWT dan SAW

Agar lebih mudah diingat, berikut bentuk sederhananya:

Kurang sesuai dengan kaidah yang dibahas:

  • Allah SWT
  • Nabi Muhammad SAW
  • Nabi Ibrahim AS
  • Abu Bakar RA

Bentuk yang sesuai dengan kaidah yang dibahas:

  • Allah Swt.
  • Nabi Muhammad saw.
  • Nabi Ibrahim a.s.
  • Abu Bakar ra.

KBBI sendiri memuat bentuk-bentuk singkatan sebagai bagian dari informasi kebahasaan, dan petunjuk KBBI menjelaskan bahwa bentuk kependekan atau singkatan dapat dimuat sebagai lema.

Yuk, Biasakan Menulis dengan Tepat!

Menulis Allah Swt. dan Nabi Muhammad saw. mungkin terlihat sebagai hal kecil. Namun, dari kebiasaan kecil inilah anak dapat belajar menjadi pribadi yang teliti, tertib, dan menghargai aturan dalam berbahasa.

Di lingkungan sekolah, pembiasaan seperti ini dapat menjadi bagian dari pendidikan literasi sekaligus pendidikan karakter. Anak belajar bahwa ketelitian bukan hanya diperlukan ketika mengerjakan soal, tetapi juga ketika menyampaikan informasi kepada orang lain.

Jadi, mulai sekarang, yuk lebih teliti ketika menulis istilah-istilah keagamaan. Bukan sekadar agar tulisan terlihat benar, tetapi juga sebagai bagian dari membangun budaya literasi yang baik.

Sudah tahu cara menulis SWT dan SAW yang benar? Yuk, mulai biasakan dari tulisan kita sehari-hari!

Leave a Comment